Selasa, 21 Oktober 2008

Metalcore Essential !!


Pendahuluan

Metalcore, sebuah genre musik baru yang berkembang di USA, sering disebut juga sebagai New wave of American Heavy Metal menurut Sam Dunn di beberapa referensi yang pernah saya baca. Metalcore merupakan fusion dari berbagai genre musik yang berkembang di pertengahan tahun 90’an dengan akar dari musik hardcore, punk ,thrash metal dan juga sentuhan Swedish melodic death metal, yang terakhir ini memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi band band metalcore papan atas , dan hal ini diakui oleh Brian Flair dari Shadows Fall dan Howard Jones dari Killswitch Engage .Metalcore memiliki akar yang cukup kuat dari musik Hardcore / Punk, band yang tercatat membuat style dengan penggabungan konsep musik heavy metal dengan hardcore punk adalah Breakdown, dilanjutkan dengan band Hardcore lainnya seperti Damnation AD, Biohazard dan Madball yang memberikan dasar yang kuat bagi perkembangan musik Metalcore di kemudian hari.

PANTERA-ish style of heavy metal, adalah julukan yang tepat bagi jenis musik ini, dikala bubarnya PANTERA, symbol dari gelombang gebrakan musik metal banyak didominasi oleh musik Hip-metal / Nu Metal seperti Limp Bizkit, KORN, Linkin Park dan lain-nya. Seiring dengan berkembangnya zaman, musik jenis Hip metal nampak berkembang secara stagnant dan mulai ditinggalkan para penggemarnya yang mencari jenis musik lebih ekstreme dan groovy. Ya .. kuncinya adalah melodius riff gitar dan ketukan drum yang groovy , dipadu dengan style vox dari Phil Anselmo semasa masih di Pantera….maka jadi-lah konsep musik dasar dari Metalcore itu sendiri.

Metalcore merupakan istilah musik metal yang memiliki batasan yang kabur dengan jenis musik melodic death metal yang berkembang di benua Eropa di pertengahan tahun 1990’an. Perkembangan metalcore di USA,sebenarnya mulai menjamur, ketika beberapa band melodic death metal asal Swedia, seperti In Flames, Dark Tranquillity dan terutama At The Gates merambah tanah Amerika , walaupun hanya sebagai pembuka tour2x dahsyat dari Korn dan sejenisnya. Jenis musik melodic death metal yang mereka suguhkan ternyata memberikan batu loncatan dan inspirasi bagi band band baru untuk membuat konsep musik yang sejenis dengan mereka , namun dengan sentuhan US style yang lebih dominan sehingga cenderung lebih variatif dalam teknik vocal , komposisi yang bervariasi dari beat drum .. dengan contoh paling ekstrim kita bisa dapatkan dari band seperti The Black Dahlia Murder dan The Red Chord

Melodic Death Metal

Melodic Death Metal adalah aliran musik yang banyak berkembang di Eropa, di periode 1992 – 1995, dikala jenis musik old school death metal mengalami kemunduran dan banyak band death metal berganti aliran musik menjadi lebih soft baik dari komposisi musik yang digunakan juga karakter vocal yang dipakai, seperti yang terjadi pada Amorphis,Paradise Lost dan Sentenced.

There will be no melodic death metal if Carcass was not unleashed their fury with the mighty HEARTWORK ….!! Ya, benar ..Carcass memulai nya dengan milestone penting di genre musik ini dengan Heartwork, pattern2x riff yang sudah matang dibandingkan dengan album sebelumnya Necroticism Descanting the Insalobrious. Orang jenius dibalik dirilisnya album ini , tiada lain adalah Michael Ammott yang kemudian membawa soul melodic death metal ini pada band-nya kini, ARCH ENEMY

Gothenburg sound juga lah yang menjadi urat nadi dan memiliki peranan penting bagi perkembangan melodic death metal di pertengahan 90’an, bersamaan dengan booming-nya sound In Flame-ish dan menjamurnya genre musik ini di belahan bumi Eropa sana, while di Amerika masih booming jenis musik Hip metal . 3 besar band yang memiliki pengaruh paling kuat di sub-genre ini adalah In Flames, Dark Tranquillity dan At the Gates.

Aftershock dan Burn the Priest memulai-nya .. :)

Aftershock adalah band thrash metal asal Springfield, Massachusetts yang membidani lahirnya dua band besar Shadows Fall dan Killswitch Engage di akhir 90’an. Dua band ini di awal kemunculan-nya memberikan milestone tersendiri bagi perkembangan musik metalcore. Shadows Fall di album pertamanya , Somber Eyes to the Sky memberikan milestone komposisi musik yang thrashy, catchy tapi dengan kombinasi vox guttural death metal dan shrieking ala Emo , kala itu Shadows Fall masih diperkuat oleh Phillip Labonte yang sekarang berada di All That Remains. Dengan masuknya Brian Fair sebagai pengganti Phillip di album berikutnya justru memberikan milestone baru bagi perkembangan jenis musik ini, dengan kombinasi teriakan vocal yang sangat powerful,yang sekilas memiliki karakteristik yang sama dengan Mikael Stanne dari Dark Tranquillity yang memiliki range vocal dan kualitas sama baik ketika bernyanyi secara clean non-growl ,screams dan growling.

Pengaruh dari tour konser At the Gates, dan In Flames di Amerika juga menjamah anak anak muda di Amerika sana dengan mencoba mengawinkan musik Gothenburg melodic death metal dengan root musik thrash metal , hal ini lah yang coba ditawarkan oleh Burn the Priest , band yang sangat terinfluence oleh style Pantera dan Slayer yang walaupun diawal kehadirannya band ini hanya merupakan band jamming di lingkungan asrama Commonwealth Virginia University yang beranggotakan Chris Adler, Mark Morton dan John Campbell. Band yang banyak terinspirasi dengan jenis musik yang lebih thrashy ini sedikit berubah haluan, dengan berganti nama menjadi Lamb of God setahun setelah keluarnya gitaris Abe Spears yang digantikan oleh Willie Adler dengan mencoba menghadirkan catchy riff dan memberikan style yang unik dan khas bagi musik mereka, Dan hasil-nya Lamb of God bisa dibilang sebagai band metalcore yang paling berhasil saat ini, dengan tingkat penjualan album album mereka yang konon telah mencapai 1.5 juta kopi di seluruh dunia yang diikuti dengan berbagai tour keliling dunia, seperti Unholly Alliance tour , Ozzfest dan lainnya.

Menjamurnya band Metalcore

Menjamurnya band dengan jenis musik metalcore ini tak lepas dari label label musik raksasa yang mulai menandatangai kontrak dengan band band ini, yang memang memiliki kualitas yang sangat baik. Tercatat label2x raksasa (di dunia metal ) seperti Nuclear Blast Records, Roadrunners ,Century Media dan Metal Blade memiliki andalan masing masing dalam genre musik ini. Trivium dan Chimaira adalah 2 nama terakhir yang menjadi andalan dari jenis musik ini. Trivium mencoba menyuguhkan komposisi musik thrash metal old school ala Metallica dengan catchy dan straight forward dual power riffing guitar yang sangat baik, sehingga tak salah bahwa Trivium adalah band yang paling menjanjikan kala ini. Album terakhir mereka, the Crusade membuktikan hal tersebut dengan komposisi lagu yang matang digabung dengan skill musikalitas yang cukup tinggi membuat Matt heavy dkk semakin menunjukkan ‘taringnya’ di dunia metalcore.

Chimaira,The Black Dahlia Murder, As I Lay Dying, All that Remains, Atreyu , Bleeding Through berada di baris berikutnya untuk meramaikan gegap gempitanya dunia metalcore dengan berbagai komposisi musikalitas yang cenderung berwarna warni dan memberikan nuansa tersendiri bagi musik metalcore . Chimaira menawarkan jenis musik hardcore-ish dengan komposisi yang lebih berat, The Black Dahlia Murder menawarkan konsep musik metalcore dengan jenis paling ekstrim , dengan warna musik yang mencampurkan musik melodic death metal sampai pada brutal death metal yang tentunya penampilan konsernya telah kita simak di akhir tahun lalu di Jakarta. Sementara yang cukup menonjol dari konsep As I lay dying adalah komposisi lagu lagunya yang bervariasi , mirip dengan Chimaira namun dikemas dengan kualitas sound yang lebih ‘soft’. All that remains memberikan nuansa death metal yang kentara , yang nantinya berkembang menjadi death-core ( sub genre metalcore ..seperti Divine Heresy dan Job for a Cowboy ), sementara Atreyu dan Bleeding through memberikan warna musik lebih ‘thrashy’

Kemunduran Metalcore ..?

Sebuah majalah terkenal ibukota membuat artikel ini sebagai headline ini beberapa waktu lalu, secara iseng iseng berhadiah saya mengikuti halaman per halaman dari artikel yang diberikan, namun penulis tidak mendapat petunjuk atau point of interest dari maksud judul headline tersebut dengan berita yang mereka sajikan yang justru makin membingungkan para pembaca dari majalah itu sendiri.

Bila kita lihat scene dalam negeri, kita bisa melihat makin banyak band metalcore yang mengunjungi negeri ini, diawali oleh Avenged Sevenfold, kemudian The Black Dahlia Murder dan yang akan datang adalah Bleeding Through. Juga di Indonesia terdapat banyak sekali bakat dan talenta musik jenis ini yang cukup mengakar dan memiliki fanbased cukup banyak, sebut saja Death Squad dan Burger Kill dan justru dari realita yang ada , hal ini sangat kontradiktif. Metalcore akan terus berkembang dan berkembang dan memunculkan banyak sub-genre yang mencerminkan sebuah KEMAJUAN dari sisi kreatifitas dan ketertarikan orang pada jenis musik ini di masa kini dan masa yang akan datang. Mungkin di edisi berikutnya saya akan coba kupas sub-genre dari metalcore ini…\m/


artikel dibuat untuk : SoundUP Magazine, dimuat edisi Mei 2008

Source : http://supri-online.com/

Behemoth - Asian Apostasy 2008


Kreator - At the Pulse of Kapitulation - Live in East Berlin 1990

Dibulan November 1989, kondisi politik di dunia berubah drastis seiring dengan runtuhnya tembok Berlin yang memisahkan kota Berlin yang tadinya terpisahkan dari Berlin barat dan Timur , menjadi satu kota Berlin dan otomotis juga kelak mempersatukan 2 negara, Jerman Barat dan Jerman Timur. Jerman Timur memiliki fanbased yang cukup fanatic, hal ini ditunjukkan dari bonus fitur dalam DVD ini, yang menunjukkan kegilaan dan fanatisme dari fans metal yang berani mengeluarkan uang sekitar 100DM hanya untuk membeli plat / LP dari Kreator dan beberapa band yang masa itu berjaya, seperti Anthrax, Venom, Metallica, Testament, Megadeth dan lainnya.

Dalam bulan bulan mencekam di awal tahun 1990, 4 band metal yang cukup mumpuni kala itu, KREATOR, Tankard, Coroner dan Sabbat akhirnya berhasil tampil di Jerman Timur. Konser ini memiliki arti penting bagi 4 band tersebut khususnya bagi Kreator yang merilisnya dalam format VHS di tahun 1990 dengan judul “Live in East Berlin”. Video dengan format VHS ini sempat menjadi idola metallerz muda kala itu termasuk penulis dan akhirnya impian penulis dikabulkan dengan dirilisnya dengan format DVD dengan kualitas sound dan gambar jauh lebih baik.
Ditahun 2008, Kreator mengambil istirahat dari tour padat sejak promosi album terakhir mereka “Enemy Of God”. Untuk membangkitkan memori para fans lama mereka, akhirnya di tahun 2008 ini, KREATOR merilis ulang video bersejarah ini dengan bantuan seorang sound engineer handal, Andy Sneap, gitaris band Sabbat yang kala itu satu panggung dengan mereka dalam konser ini. Konser ini terdiri dari 15 lagu yang diambil dari diskografi Kreator dari Endless Pain sampai album Extreme Agression dan menghadirkan gitaris baru mereka, Frank ‘Blackfire’Godzik yang diperkenalkan ke penonton oleh Mille Petrozza pada intro lagu Under the Guillotine. Terlihat kuartet Kreator pada masa ini sangat energik dan berbeda sekali dengan penampilan mereka di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sebagai bonus tambahan pada album ini adalah bagian dokumentasi “The Past And Now”, sebuah cerita pendek bagaimana fans metal di Jerman Timur sana dalam mengapresiasi musik disini kita bisa mendengarkan langsung saksi sejarah konser live in East Berlin tersebut diselenggarakan, dan juga tak lupa ditambahkan juga sebagai bonus feature dalam DVD ini adalah promosi video dari album Coma of Souls , berjudul Hallucinative Comas“. Fitur ini lebih mirip sebagai illustrasi Horor dengan lagu dari album Coma of Souls .

DVD ini menjamin kepuasan fans karena dapat memiliki dokumentasi lengkap perjalanan Kreator di awal kejayaan mereka di awal tahun 1990. Dengan harga sekitar 24 USD anda bisa mendapatkan DVD ini dengan packing eksklusif berikut dengan CD audio yang mencakup semua lagu Kreator yang diipentaskan pada konser ini. So grab it ..!!!!

DVD
- Some Pain Will Last
- Extreme Aggression
- Under The Guillotine
- Toxic Race
- Bringer Of Torture
- Pleasure To Kill
- Flag Of Hate
- Drum Solo
- Terrible Certainty
- Riot Of Violence
- Love Us Or Hate Us
- Behind The Mirror
- Betrayer
-Awakening Of The Gods
-Tormentor "The Past And Now" Documentary "Hallucinative Comas" Movie
- At The Pulse Of Kapitulation
- People Of The Lie
- Dr. Wagner Part I
- Twisted Urges
- Dr. Wagner II
- Coma Of Souls
- Dr. Wagner Part III
- Terror Zone
- Deleted Scenes
- Bonus Material
"Live In East Berlin, 1990" Video

CD -
Some Pain Will Last
Extreme Aggression
Under The Guillotine
Toxic Race
Bringer Of Torture
Pleasure To Kill
Flag Of Hate
Drum Solo
Terrible Certainty
Riot Of Violence
Love Us Or Hate Us
Behind The Mirror
Betrayer
Awakening Of The Gods
Tormentor

Jorgen "Ventor" Reil - Drums, Vocals
Miland "Mille" Petrozza - Guitar, Vocals
Roberto "Rob" Fioretti - Bass
Frank "Blackfire" Gosdzik - Guitar

Source : http://www.supri-online.com/

Senin, 20 Oktober 2008

Behemoth - The Apostasy

BEHEMOTH, band extreme metal Polandia yang melewati batas norma Blackmetal dan Deathmetal kembali hadir dengan album terbaru mereka The Apostasy. Kesan pertama ketika melihat artwork album ini adalah sebuah album yang merupakan ekstensi dari konsep yang sudah mereka rumuskan sejak di era "Satanica" (1999), "Thelema Six" (2000), "Zos Kia Kultus" (2002), dan sampai pada akhirnya mencapai tingkat 'masterpiece' pada "Demigod" (2004). Kalau "Satanica" adalah album yang bersifat breakthrough untuk shifting mereka ke gerbang Deathmetal sound (sebelumnya Behemoth adalah band Blackmetal dengan sound yang relatif raw dan primitif); dan "Demigod" adalah breakthrough untuk konsep, songwriting, dan soundscape; maka kata-kata apa yang tepat untuk menggambarkan "The Apostasy" ?

Dalam bahasa yang sederhana "The Apostasy" adalah versi yang lebih mature dari "Demigod" dimana secara konsep dan artwork tidak jauh berbeda, akan tetapi dari segi musik dan musicianhip album ini relatif lebih kaya, dengan berbagai eksperimen yang dapat dikatakan berhasil, dan didukung oleh pemilihan soundscape yang lebih organik dan natural. track Prometherion diakui oleh Adam Darski aka Nergal ditulis liriknya diluar kesadaran dia , pada saat mempelajari mitologi Sumeria ..hal ini terungkap di majalah Terrorizer bulan Juli 2007, bahwa ada semacam outer power yang membantu dia untuk menulis beberapa track di album ini. Namun satu hal yang pasti bahwa Adam Darski ini adalah seorang sarjana dengan mata kuliah Sejarah di Universitas Gdansk di Polandia sana dan terkualifikasi sebagi kurator museum

"The Apostasy" dibuka dengan "Rome 64 CE", sebuah instrumental dengan nuansa epik yang diinspirasikan oleh pembakaran kota Roma oleh Nero Claudius Cesar pada tahun 64 Masehi. Sebuah intro yang secara representatif menggambarkan maksud dari "The Apostasy." Dan dari sini dimulailah … sebuah Deathmetal fiesta dengan nuansa blackened yang akan membuat istri/ suami/ anak, atau bahkan tetangga anda stress, binatang peliharaan anda akan kabur dari rumah, dan pembantu anda akan langsung mengutarakan niatnya untuk pulang kampung dan melamar jadi TKI ke Malaysia. Nergal (vocals, guitars), Orion (Bass), dan Inferno (Drums) memainkan agresi Deathmetal yang brutal namun terukur : vokal Nergal dengan karakter articulate growl-nya tidak lagi indecipherable seperti pada album2 sebelumnya, dalam arti bisa didengar dengan jelas kata-kata yang diucapkan, dan tidak lagi menggunakan dual layer vocals seperti pada Slaves Shall Serve (Demigod, 2004). Sound gitar Nergal tidak terlalu low-tuned seperti layaknya sound Deathmetal standar dimana hal ini menjadi salah satu karakteristik unik dari musiknya Behemoth secara keseluruhan. Riff dan lead guitar dapat didengar dengan jelas (thnx ke production yang sangat bersih), dan permainan lead gitar Nergal sepertinya mengalami kemajuan dalam hal teknis dan kompleksitas dibandingkan rilisan sebelumnya. Masih di departemen gitar, Nergal didukung oleh season guitarist yang sudah terlibat dengan Behemoth sejak era "Demigod" yaitu Patryk Dominik "Seth" Sztyber yang entah kenapa selalu menjadi season guitarist dan tidak menjadi personil tetap. Sepertinya Nergal harus berpikir serius untuk menjadikan Seth sebagai Behemoth keempat. Seth sangat talented dan sayang sekali kalau sampai kabur ke band lain. Sementara itu di departemen drum yang dihuni oleh The Mighty Inferno, terdapat beberapa perubahan yang cukup signifikan; sound untuk snare dan piranti drum Inferno terdengar lebih natural dengan settingan sound yang lebih thin dari "Demigod." Hal yang tidak berubah dari departemen drum adalah – tentu saja – permainan Inferno yang relentless, tight, presisi, dan secara sempurna menjadi tulang punggung pada setiap track Behemoth. Permainan drum Inferno tetap merupakan salah satu yang terbaik di genre-nya.

Aspek eksperimental pada "The Apostasy" dapat dilihat pada penggunaan choir pada beberapa lagu (misalnya pada "Slaying the Prophets Ov Isa), sound trumpet yang memberikan image untuk ancient military, serta permainan piano oleh Leszek Mozdzer pada track "Inner Sanctum." Eksperimen di sini dapat dikatakan berhasil, dalam arti tidak menghilangkan atribut Blackened Deathmetal yang diusung Behemoth, malah memperkaya khazanah sound yang membawa Deathmetal secara genre ke tahap berikutnya.

"The Apostasy" adalah bersifat fully recommended, baik untuk fans fanatik Behemoth, fans Deathmetal, atau untuk fans yang ingin 'masuk' ke Deathmetal untuk pertama kalinya. Simply pick this album and laugh at the face of your jealous friends !

Line Up :
Adam "Nergal" Darski – Vocals, Guitars
Zbigniew Robert "Inferno" Prominski – Drums Percussion
Tomasz "Orion" Wroblewski – Bass

Tracks :
Rome 64 C.E. 01:25
Slaying the Prophets Ov Isa 03:23
Prometherion 03:03
At the Left Hand Ov God 04:58
Kriegsphilosophie 04:23
Be Without Fear 03:17
Arcana Hereticae 02:58
Libertheme 04:53
Inner Sanctum 05:01
Pazuzu 02:36

Christgrinding Avenue 03:50

Reviewer : Riki Paramita ( marduk.wolves@gmail.comThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it )
honorary contributor supri-online.com

Death Vomit

DEATH VOMIT terbentuk pada tahun 1995 di Jogjakarta: Dede (vokal), Wilman (gitar), Ary (bas) dan Roy (drum). Pada awalnya memainkan musik death metal dan langsung membawakan lagu sendiri. Tidak berapa lama lagu-lagu sendiri direkam dalam bentuk rehearseal demo dan mendapat respon positif dari pecinta musik underground Indonesia, Respon ini berlanjut dengan sering tampilnya DEATH VOMIT di luar kota Jogjakarta seperti Jakarta, Bandung, Purwokerto, Solo, Malang Surabya Denpasar walaupun sempat berganti formasi personel.Tahun 1997 DEATH VOMIT ikut serta dalam album kompilasi underground Indonesia METALIK KLINIK I produksi Musica Records. Mulai saat itulah pementasan banyak dilakukan dan tetap menciptakan lagu sendiri. Hingga pada bulan Noivember 1999 DEATH VOMIT merilis album pertama “Eternally Deprecated” yang diproduksi secara D I Y (Do It Yourself) baik dari proses rekaman, produksi kaset sampai distribusi benar-benar murni dilakukan oleh DEATH VOMIT sendiri. Penjualan album ini terbilang lumayan sebanyak 1500 kaset. Hal ini membuat label Bandung Extreme Soul Production berniat merilis ulang album ini. Sampai saat ini kaset yang dirilis ulang telah terjual sebanyak 2200 kaset.Dengan berjalannya waktu, DEATH VOMIT mengalami pergantian personel. Dan line up terkini DEATH VOMIT adalah Sofyan Hadi (Vokal/gitar), Oki Haribowo (bass) dan Roy Agus (drum). Pada awal bulan Mei 2006 DEATH VOMIT rekaman album baru dengan judul “The Prophecy”di bawah label ROTTREVORE RECORDS yang akan beredar pada bulan Agustus 2006.
Jogjakarta Corpse Grinder!!!Jogjakarta bangkit lagi setelah tidur terlalu lama.. DEATH VOMIT band paling senior dari seluruh dataran Jogjakarta ini kembali memuntahkan sebuah karya full album dengan title “The Prophecy” dengan bermaterikan 9 buah lagu yang sangat cepat, berkarakter sound Heavy mid-low,sebuah hasil dengan nilai 2 jempol!! Sebuah hasil karya yang bisa dijadikan tolak ukur untuk musik DEATH METAL INDONESIA… recording di lakukan di Studio Avila, Sleman - Jogjakarta yang sepenuhnya di pegang oleh Inal sebagai operator loading pada tanggal 6 – 14 Mei 2006, Mixing DEATH VOMIT di lakukan di Bintang 41 Studio recording tepatnya di Riung Bandung oleh Oteng Forgotten dan Sophyan ( guitar/vocal ) 17 – 22 mei 2006 . Mastering untuk DEATH VOMIT di mulai pada tanggal 1 – 3 Juni 2006 oleh Samuel Tanasyah di Warner Music Studio. Pengarapan seluruh layout cover dipegang oleh Bakuh dan Kenji seorang designer militan metal Jogjakarta. Pada rilisan ini DEATH VOMIT akan merilis sebuah enhanced Cd yang kalian semua bisa melihat seluruh Interview dan seluruh sesi Recording DEATH VOMIT dalam bentuk visual audio.Semangat metal 14 Tahun yang membuat DEATH VOMIT semakin matang dalam meng arrangement lagu sebuah kekuatan mesin tempur yang dasyat.setelah tertidur cukup lama akhirnya pada bulan agustus 2006 DEATH VOMIT memuntahkan kemarahannya lewat album terbaru mereka yang berjudul “ The Prophecy “. Trio jogjakarta ini cukup meyakinkan dalam musikalitas,mereka berhasil mengawinkan ketegangan dan kecepatan, musik mereka secara matematis sangat susah untuk dikalkulasikan. Death Vomit berdiri dan dibesarkan di Jogjakarta,sebuah kota pendidikan di tengah pulau jawa yang cukup sangat kuat akar budayanya,kota yang banyak melahirkan musisi extreme seperti BRUTAL CORPSE – DEVOURED – CRANIAL INCISORED.

Members :
Roy – Drums
Sophyan – Vocals / guitars
Oky – Bass

Influences : SUFFOCATION – DEEDS OF FLESH – INTERNAL BLEEDING - PYREXIA

Forgotten "TIGA ANGKA ENAM"

PEMBERONTAKAN itu bisa lahir karena banyak sebab. Sebab budaya, sosial atau politik [mungkin ini yang kerap muncul]. Tapi pemberontakan juga bisa lahir karena melihat ketimpangan dan gerah dengan lingkungan yang membuat seseorang [atau peer-group] terkungkung. Munculnya dalam banyak bentuk, salah satunya adalah gerakan musikal yang keras, liar dan punya lirik meledak-ledak.

Titik tolak itu mungkin bisa memberi gambaran dari lahirnya band death metal asal Ujung Berung Bandung, FORGOTTEN. Bermual dari sekumpulan anak muda yang gelisah dengan lingkungannya yang padat oleh industri pabrik, kumuh dan lingkungan mulai sesak, akhirnya mereka mencari solusi dengan "berteriak" lewat medium musik dan death metal adaalah pilihannya.

Tahun 1994 silam, Ferly [gitar], Toteng [gitar], Kardun [bass], Addy Gembel [vokal] dan Kudung [drum] memproklamirkan lahirnya FORGOTTEN. Mereka meretas jalan panjang menjadi band indie yang lahir dari komunitas msuik 'homeless crew' di Ujungberung.

Tiga tahun sesudahnya, Januari 1997, band ini merilis album perdana 'Future Syndrome' yang direkan di Palapa Studio Bandung. Materinya enam lagu berlirik Inggris dirilis oleha label Palapa Record. Hebatnya, peredarannya menembus Asia. Malah kemudian menggandeng Morbid Record untuk masuk pasar Eropa.

Respon yang positif membuat FORGOTTEN bersemangat untuk kembali merilis album. Dengan materi dua single, Maret 1998 band ini kembali menggedor pasar dengan titel 'OBSESI MATI Promo Tape 98' yang juga dirilis lewat jalur indie oleh Rock Record. Sayangnya, Ferly --gitaris-- kemudian memilih mundur. Padahal beberapa proyek kompilasi sedang digarap.

Toh hidup dan berkarya terus berjalan. Februari 2000, FORGOTTEN malah kemudian bersiap-siap dengan full album ke-2. 10 materi yang "mengerikan" direkam di Studio Rehearsal 40124 Bandung. Kelar produksi, Agustus 2000 album kedua 'OBSESI MATI' dirilis oleh Soul Production. Lagu-lagi mereka harus kehilangan personilnya, lantaran Kudung [drumer] mengundurkan diri dan digantikan [sementara] oleh Andris, drumer band death metal lain, Disinfekted.

FORGOTTEN tak sempat berdiam diri. Masuk Juli 2001, mereka menggarap empat lagu berbahasa Indonesia di Bintang 41 Studio Bandung. Jangan kaget, e.p itu berjudul 'TUHAN TELAH MATI' yang dirilis Agustus 2001 oleh label Indie Record. Band ini kembali harus kehilangan personil, Kardun [bass] juga pilih mundur dari line-up karena alasan pribadi. Apa boleh buat, Dikky dari PostMortem pun digaet sebagai additional.

Tahun 2003, band "mengganas" dengan album bertitel 'TIGA ANGKA ENAM.' Mungkin inilah album "tersarkastis' yang pernah mereka rilis. Liriknya makin kasar, keras dan melakda-ledak. Tapi di era inilah, Andris [drum] keluar dan sementara digantikan oleh additonal drum.

Kini band "terganas" ini kembali dengan album terliarnya, 'TIGA ANGKA ENAM' yang dirilis ulang oleh RottreVore Record Jakarta. Ada 10 lagu yang kejam dan ganas dan siap menghardik setiap hadangan. Jangan "tertipu" dengan judul album yang mengesankan band ini seperti "iblis" tanpa ampun. Mereka tetap manusia yang kritis dan memilih lirik "gelap" sebagai pelampiasan kegeraman mereka akan kondisi dunia yang menyebalkan ini. Tapi percayalah, FORGOTTEN bukan penyesat, itu pasti! [joko.moer/foto: istimewa]

SiksaKubur

SIKSAKUBUR pertama kali di bentuk pada 6 july 1996. nama ini diambil dari band yang menjadi tolak ukur mereka dalam bermusik yaitu SEPULTURA yang berarti kuburan band memulai debut nya dari event-event UNDERGROUND mulai menarik perhatian para pecinta musik DEATH METAL dibulan july hingga september tahun 1996 SIKSAKUBUR mulai masuk studio rekaman yang bernama K-studio yang mengemas 9 lagu yang dituangkan dalam sebuah album THE CARNAGE yang dirilis dan didistribusikan oleh EXTREME SOUL PRODUCTION dalam sebuah kaset & CD. Album ini mendapat tanggapan yang positif dari kalangan pemerhati musik UNDERGROUND khususnya album ini terjual 1000 keping CD & 500 copy kaset, walaupun kwalitas dari album ini sangat kurang dikarenakan minimnya perlengkapan studio rekaman. Sukses dengan album pertamanya bulan November 2001 SIKSAKUBUR merekam 9 lagu dan dibubuhi 1 (intro) yang dituangkan kedalam album kedua BACK TO VENGEANCE yang didistribusikan oleh ROTTREVORE records dalam sebuah format kaset, penjualan album ini termasuk fantastis dalam kurun waktu 1 bulan telah terjual 750 copy kaset walaupun hasil rekaman inipun masih kurang sempurna tapi lebih baik dari album pertama. SIKSAKUBUR mulai merambah event-event di Indonesia khususnya dipulau jawa hingga bali. Formasi album THE CARNAGE and BACK TO VENGEANCE adalah Japra (vocal), Andyan gorust (Drum), Ade godel (gitar), Burgenk (Bass) tapi setelah album kedua dirilis ADE GODEL mengundurkan diri dari SIKSAKUBUR karena tidak bisa membagi waktunya dengan band, disusul dengan BURGENK yang mengundurkan diri dari band karena harus melanjutkan study keluar negeri. Posisi ini di gantikan oleh Andre yang juga gitaris REVITOL dan Yudhi bebek ex- AUTHORITY, dengan formasi ini SIKSAKUBUR mengeluarkan album ke tiga yang bertitel EYE CRY album ini dirilis dan didistribusikan oleh ROTTREVORE records dalam format CD dan KASET album inilah yang membuat SIKSAKUBUR mendapat perhatian lebih dari media massa dan elektronik.

SIKSAKUBUR merambah event-event bukan hanya event UNDERGROUND saja tapi event yang bukan UNDERGROUND sampai pentas seni sekolah SIKSAKUBUR menjadi headliner dalam acara tersebut ini sebagai bukti bahwa musik DEATH METAL yang dimainkan oleh SIKSAKUBUR mulai mendapat perhatian lebih, bukan hanya di Indonesia tapi hingga mancanegara khususnya SINGAPURA dan MALAYSIA. Karena july tahun 2005 lalu SIKSAKUBUR menjadi headline pada sebuah event metal di singapura. Album THE CARNAGE dan BACK TO VENGEANCE akhirnya dirilis oleh FROM BEYOND record (belanda) ini adalah sub label dari DISPLASEDrec yang merupakan salah satu label METAL besar di amerika album ini dikemas kedalam bentuk CD yang didistribusikan Bukan hanya di ASIA tapi benua EROPA dan AMERIKA. > Setelah lebih dari 10 thn berkiprah di Blantika musik metal Indonesia SIKSAKUBUR telah merilis 4 AlbumPodi yaitu THE CARNAGE, BACK TO VENGEANCE, EYE CRY dan PODIUM yang juga merupakan album terakhir dari drummer sekaligus pendiri SIKSAKUBUR yaitu ANDYAN GORUST. Namun setelah mengalami masa2 sulit dan masa pencarian pemain drum, akhirnya SIKSAKUBUR mendapatkan drummer baru yaitu PRAMA [ ex- ALEXANDER.LAST SUFFER] . Namun masalah belum selesai, YUDI BEBEK pun mengundurkan diri karena masalah pekerjaan, namun EWIN (Eks, Bloody Gore/C.O.B/Extracensory) langsung menggantikan nya. dan SIKSAKUBUR pun siap untuk kembali dengan formasi baru ini….so WATCH OUT !!!!

Source : http://rottrevorerecords.wordpress.com/

Minggu, 19 Oktober 2008

As I Lay Dying, Apa Dan Siapa

As I Lay Dying adalah band metalcore asal San Diego California. Band yang memiliki gaya bermusik yang cukup unik ini menggabungkan musik metal yang berbasis pada riff riff melodius ala Gothenburg Sound , seperti In Flames dan At The Gates dengan komposisi ringan ala musik Punk sehingga mudah dicerna dan disimak bahkan oleh para pendengar musik rock/metal yang terhitung baru mendengar lagu lagu dari mereka. Nama band ini berasal dari novel William Faulkner yang dicetak sekitar tahun 1930’an berjudul As I Lay Dying yang menceritakan kehidupan keluarga petani Amerika yang religius.Band ini kini digawangi oleh Tim Lambesis,sebagai vokalis,dan leader dari band ini, kemudian drummer muda enerjik dan sangat berbakat Jordan Mancino. Dual shredder yang memperkuat dari sisi riff gitar, Nick Hipa dan Phil Sgrosso . Nick Hipa merupakan gitaris yang cukup menonjol dengan karakter sound yang berbeda dengan musik metalcore kebanyakan, karena boleh dibilang ‘terlalu melodius’ dan kurang tebal distorsinya, dan justru hal itu menambah karakter dari pattern2x lead gitar dari Nick, sementara karakter sound distorsi yang tebal dilapis oleh Phil yang memang memiliki background lebih kuat dibandingkan Nick .Sementara Josh Gilbert membantu Tim Lambesis sebagai clean vocalist dan juga bertanggung jawab sebagai pencabik bas.

As I Lay Dying merupakan band yang cukup terkenal di scene metal dunia karena meraih beberapa prestasi . Salah satu yang cukup fenomenal adalah dengan dinominasikan-nya lagu Nothing Left dalam ajang Grammy Awards di tahun 2008. Di tahun ini juga band ini dianugrahi penghargaan San Diego Music Award. Di tahun sebelumnya band ini memenangkan penghargaan Ultimate Metal God dari saluran TV musik terkenal di dunia MTV2 .

Band ini seringkali dicap sebagai band yang cukup religius, karena lirik lirik positifnya yang tergolong berbeda dengan band lain. Bila band lain banyak mengumbar kekerasan, kegelapan ,realita social, band ini justru mengangkat tema religius dan unsure spiritual positif dalam lagu-lagu mereka. Hal ini sempat membuat mereka digelari band metal spiritual. / white metal ,hal ini tercermin lewat rilisan mereka mulai dari Beneath The Encoding of Ashes, yang dirilis di tahun 2001 sampai pada album Shadows are Security yang dirilis tahun 2005.

Tim Lambesis seperti vokalis dan penulis lirik dari band ini mulai bereksperimen dengan lirik yang bertema sosial di album terakhir mereka “ An ocean between us “ yang dirilis tahun 2007 lalu, justru menambah greget dan karakter dari band ini, lirik yang tidak preachy tapi mengajak ke sisi positif tergambar disini . Seiring dengan sambutan positif dari berbagai kritikus musik metal diseluruh dunia, juga band ini beberapa kali tampil dalam sampler majalah Metal Hammer sepanjang tahun 2007, tercatat penulis memiliki 2 edisi Metal Hammer yang memuat mengenai band ini. Bahkan album An Ocean .. ini berhasil menduduki peringkat Billboard 200 no.8 dan no 1 di bagian rock chart , sebuah prestasi yang cukup membanggakan bagi sebuah band yang masih terhitung masih baru diblantika musik rock/metal dunia. Tak salah bila Adam Dukiewicz , gitaris dari band KSE (Killswitch Engage) yang bisa dikatakan pelopor dari genre Metalcore ini memproduseri album An Ocean … dan tak lupa juga Andy Sneap sang maestro “modern sound of metal “ bertugas mengemas sound di album ini sehingga tampil lebih baik di banding album sebelumnya, Shadows are Security.

Di tahun 2007, As I Lay Dying mulai merekam album baru dengan bantuan Colin Richardson di sisi mixing album dan Andy Sneap sebagai pemerhati kualitas sound gitar . Dua nama yang menjadi jaminan kualitas sound yang ciamik dari sebuah album band metal saat ini. Album ini dirpduseri oleh gitaris Killswitch Engage Adam Dutkiewicz yang menjalin pertemanan dengan Tim dkk selama promo tour Shadows of Security . dan pada minggu pertama album ini dirilis berhasil menduduki peringkat 8 pada Billboard 200, dan no.1 pada Top Rock chart . Tercatat penjualan pada minggu pertama album ini menurut Ac Nielsen Soundscan adalah 39.000

Berbagai review dan kritik positif diluncurkan berbagai situs online dan majalah metal dunia seiring dengan dirilisnya album ini, tercatat about.com meberikan 3.5/5 allmusic.com memberikan 4 /5 bintang bahkan Cross Rhytms memberikan rating sempurna 10/10 untuk album ini. Kebanyakan review dan kritik tersebut menjurus pada kualitas sound yang baik dan didukung oleh komposisi lagu yang cukup baik yang disajikan oleh AILD di album ini. Dan tentunya anda pasti penasaran bila lagu lagu seperti Nothing Left, Within Destruction , Forsaken, an Ocean between Us dibawakan langsung di depan mata kita ? Maka nantikan show mereka nanti di Stadion Tennis Indoor Senayan tanggal 27 November 2008 !!

See u There ..!

(Supriyanto - Solucite, soundup magazine , supri-online.com)

Sabtu, 18 Oktober 2008

As I Lay Dying

Biography

Band ini dibentuk tahun 2000 oleh Tim Lambesis ,Noise Ratchet dan Eli Bowser sebagai trio yang membuat komposisi musik dengan aliran musik dipengaruhi oleh seperti Papa Roach, Zao, Mower dan band band modern metal lainnya yang banyak mengambil arah dari musik beraliran punk dan Nu metal yang berjaya pada masa itu. Band ini hanya berumur beberapa bulan karena sempat bubar karena Tim Lambesis bergabung dengan band Texas bernama Society Finest bersama Eli Bowser, sedangkan Jon Jameson bergabung dengan band Noise Hatchet. Selama 4 bulan hiatus kemudian di awal tahun 2001 , Tim Lambesis kembali ke San Diego dan menghidupkan kembali As I Lay Dying dengan merekrut personel baru Evan White dari Nothing to Lose, Jordan Mancinoyang baru saja keluar dari band Edge of Mortality dan Noah Chase dari xXxFingerpointxXx.. Tim membuat konsep dari AILD berbeda dengan musik sebelumnya semasa masih trio, Quartet AILD ini mencoba membuat musik dengan sound lebih berat, kasar dan riff gitar lebih ke arah musik Hardcore.seperti Vision of Disorder dan Hatebreed.

Hasilnya bisa dilihat di album Beneath the Encasing Machine yang diproduseri oleh Tim Lambesis pribadi dan dirilis oleh label kecil di San Diego bernama Pluto Records. Album ini berhasil menjadi album dengan rekor penjualan yang cukup fantastis dari label kecil ini. Memang kalau disimak album ini secara konsep musikalitas dan kekuatan dalam menulis lagu tidak sehebat album An ocean … namun dari album inilah kita bisa melihat dan menyimak proses evolusi dari As I Lay Dying. Data penjualan album yang baik dari label kecil ini akhirnya mentrigger dirilisnya album split dengan band sekota, American Tragedy, sebuah band heavy metal .

Karena seringnya bergonta ganti personel di awal kemunculan mereka, akhirnya Tim dan Jordan merekrut teman dekat mereka. Hal inilah yang membuat Tim dan Jordan ekstensif melakukan pengganti yang sevisi untuk mengisi kekosongan posisi di AILD seiring dengan popularitas dan jadwal tour yang padat. Tercatat pada awal kemunculan mereka, mereka telah melakukan tour bersama Poison the Well, In Flames, Hatebreed, Shai-Hulud, Zao, American Nightmare, Bane, From Autumn to Ashes, Sick of it All, Snapcase, Dillinger Escape Plan, Evergreen Terrace, Hopesfall, Nora, 7 Angels 7 Plagues, Twelve Tribes, Fall Silent, Curl Up And Die, Stretch Armstrong, Papa Roach, No Innocent Victim, Page 99, Living Sacrifice, The Deadlines, Embodyment, Travail, The Deal, Figure Four, Officer Negative, Norma Jean, Spitfire, Dogwood, Between the Buried and Me, 18 Visions, Bleeding Through, Spoken, Soul Embrace, Point of Recognition, Every Time I Die, Unearth, Andrew W.K., Throwdown, Underoath, Boy Sets Fire dan banyak band lagi.

Di awal tahun 2003 kontrak As I Lay Dying dengan Pluto Records berakhir dan sebenarnya AILD sudah diincar oleh Trustkill Records sejak album awal.AILD ditawari kontrak yang cukup menggiurkan oleh label ini. Tapi untuk kepentingan masa depan yang lebih baik, Tim dan Jordan akhirnya memilih Metal Blade records dengan konsekuensi album pertama lewat label ini, AILD masih self producing. Alasan utama AILD memilih label Metal Blade adalah dukungan dari pemilik label Pluto Records yang merekomendasikan Metal Blade karena label ini memiliki perhatian dan konsep marketing lebih baik dibandingkan Trustkill. Tim Lambesis bahkan menegaskan bahwa pilihan ini lebih dipertimbangkan bahwa dengan keputusan bergabung dengan Metal Blade ini karena Metal Blade adalah label yang memilki komitmen pada artis dan juga scene metal, tidak asal menjual dari band tapi memperhatikan kualitas dari produk yang mereka jual,sehingga mendorong AILD untuk berkarya lebih baik dari sebelumnya.

Di bulan Juli 2003, Frail Words Collapse dirilis dengan hasil yang jauh berbeda di bandingkan dengan album sebelumnya. Album ini terdengar lebih matang dengan arahan konsep musik yang lebih baik dari sebelumnya. Lagu single mereka seperti 94 hours dan Forever menjadi pilihan banyak orang di radio musik di internet dan menjadi top request selama beberapa minggu di acara MTV2 Headbanger’s ball. Bahkan di minggu awal dirilisnya album ini, menduduki peringkat 30 dari Top Independent album dan no.41 di Top Heatseekers sehingga kritisi musik terkenal seperti William York dari Allmusic.com mengomentari band ini “doesn't really add anything new to the mix from a musical standpoint" with the release, although praised it for being "solid enough and well executed, and the production is adequate." Dukungan dari label juga diterima oleh band ini sehingga mendongkrak popularitas dari AILD sehinga mereka mengadakan tour kembali bersama Himsa, Shadows Fall, The Black Dahlia Murder, Killswitch Engage, In Flames, Sworn Enemy juga salah satu pujaan mereka, Hatebreed.

Namun sayang, setelah dirilis album ini, As I Lay Dying kehilangan dua gitaris karena padatnya jadwal tur yang sangat melelahkan , sehingga kadang melakukan seleksi dan audisi untuk mencari personel tetap, tercatat Bassist Noah Chase meninggalkan band ini di tahun 2001dan penggantinya Aaron Kennedy keluar di tahun 2003. Gitaris Evan White keluar di tahun 2003 juga gitaris berbakat Jason Krebs di tahun yang sama. Mereka menemukan pengganti yang tak kalah hebat nya , amunisi AILD semakin kuat ketika mereka menemukan Phil Sgrosso dan Nick Hipa. Duet gitaris inilah yang kemudian mengisi album berikutnya Shadows are Security yang direkam di studio Big Fish di musim semi tahun 2005.

Album yang bisa disebut sebagai major breakthrough dari As I Lay Dying ini terjual sekitar 275.000 CD dan langsung menduduki peringkat 1 dari Top Independent album pada minggu pertama dirilisnya album ini. Lagu Through Struggle yang merupakan single terlaris dari album ini bahkan menjadi top request di berbagai radio metal online dan juga sempat mengisi kompilasi sampler dari ulang tahun ke 20 dari Label mereka Metal Blade records. Kontribusi sound engineering dari Andy Sneap mulai juga terdengar di album ini, yang membuat karakter sound yang lebih lugas, garang dan kadang bisa terdengar lembut dari lead gitar Nick Hipa bisa kita smika di album ini. Bahkan Rod Smith dari Decibel Magazine mengomentari album ini “finely honed roar in bittersweet instrumental matrices augmented by occasional clean vocals by bassist Clint Norris. Guitarists Phil Sgrosso and Nick Hipa whip up a melodic cyclone on 'The Darkest Nights'."

As I Lay Dying mulai melakukan tour untuk mempromosikan album ini dimulai dari tour di beberapa metalfest tercatat di Hell on Earth, Winter Headline Tour, Ozzfest dan tour yang sangat padat bersama Slipknot dan Unearth. Band ini pernah menolak dimainkan di panggung utama Ozzfest dengan bayaran USD 75.000 karena Tim merasa bahwa band ini belum pantas untuk tampil sebagai headliner. Tercatat selama musim panas 2005 sampai akhir tahun 2006 , band ini malang melintang melakukan tour bersama Rob Zombie, Killswitch engage, Mastodon, The Haunted, Deftones, Thrice, Dredg, Funeral for a Friend, Story of the Year. Dan penampilan mereka ditutup di festival musik Sounds of the Underground Festival

Di bulan Mei 2006, album Beneath the Encasing of Ashes dan lagu lagu dari split album dengan band American Tragedy dirilis ulang oleh Metal Blade Records dengan judul A Long March : The First Recordings, karena Tim Lambesis geram melihat 2 album awal mereka dijual amat mahal di situs lelang online Ebay seharga lebih dari USD 90 ..

Source : http://solucite.com/

Trauma - Band Lama Yang Yasih Eksis

TRAUMA adalah salah satu band pengusung musik ‘death metal’ tertua di Indonesia yang masih aktif hingga saat ini. Terbentuk di Jakarta pada tanggal 18 Agustus 1992 dan sudah tampil lebih dari 250 kali di berbagai event di banyak kota di seluruh Indonesia seperti di seputar Jabotabek, Bandung, Denpasar-BALI, Medan, Bogor, Cilacap, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Solo, Cirebon, Kendal, dll…

Demo pertama TRAUMA “Incomplete damnation” dirilis di tahun 1997 dan di tahun 1998 TRAUMA akhirnya merilis full length album perdana yang berjudul “Extinction of Mankind” via label indie local ; MORBID NOISE RECORDS. Berisikan 10 buah lagu. Genap satu tahun setelah rilis, di tahun 1999 album ini kemudian dilisensi secara ekslusif oleh PSYCHIC SCREAM ENTERTAINMENT (Sebuah label asal Malaysia dengan dukungan distribusi yang kuat dari PONY CANYON) untuk market Malaysia,Singapore dan Thailand. Dan di tahun 2000, sebuah label anyar asal Chicago USA; OWL RECORDS akhirnya juga melisensi album “Extinction of Mankind” untuk pasaran yang lebih luas. Kali ini dalam format kaset dan juga CD.

Selepas itu, TRAUMA juga kerap merilis split album dengan banyak band yang berasal dari berbagai Negara. Di tahun 2000 PSYCHIC SCREAM ENT (Malaysia) juga meriliskan split album TRAUMA dengan band UNVEILED yang berasal dari Malaysia untuk wilayah pemasaran worldwide. Label local EXTREME SOULS PRODUCTION (2002) juga meriliskan live TRAUMA dengan band ‘mince core’ legenda asal Belgia; AGATHOCLES. Album tsb diberi tiel “Death Metal vs. Mince Core”. Di tahun yang sama pula, respon yang sangat positif datang dari sebuah label asal Negeri Belanda; MANGLED MAGGOT STEW RECORDS. Label ini kemudian menggabungkan TRAUMA dan band asal Belanda; TUMOUR dalam sebuah split album yang diberi title “Death Metal vs. Gore Grind”. Sukses dengan ini, MANGLED MAGGOT STEW RECORDS yang bermarkas di Holland ini kemudian meriliskan 4 way Split album yang berisikan 4 band; TRAUMA (Indonesia)/PLANKTON (Belanda)/SANGUINARY (Belanda)/INTUMESCENCE (Belanda)

Sejauh ini TRAUMA juga sudah ambil bagian di lebih dari 50 judul album kompilasi yang dirilis oleh label major maupun yang via indie label, baik yang berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia. Salah satu kompilasi ‘terbesar’ adalah “METALIK KLINIK” (Vol.1-1997 dan V-2003). Album Produksi Rotorcorp/MUSICA ini konon terjual lebih dari 100.000 keping hingga saat ini. Selain itu TRAUMA juga ikut serta dalam kompilasi album bertitel “PANGGILAN PULAU PUAKA” (Vol.II dan III) yang dirilis oleh PSYCHIC SCREAM ENT dari Malaysia. Khabarnya album ini juga merupakan album kompilasi musik metal terlaris di Malaysia pada tahun 2000-2001. PONY CANYON-Malaysia juga sempat menyertakan TRAUMA dalam kompilasi CD nya yang ber-titel “METAL KLASIK Malaysia vs. Indonesia”.
Lagu-lagu dari TRAUMA juga sempat ikut di berbagai album kompilasi yang diproduksi oleh label-label asal Prancis, Amerika, Australia, Russia, Jerman, Ukraina, Thailand, Mexico, dll…

Beberapa lagu milik TRAUMA juga sempat menjadi #1 di beberapa program musik rock di radio local termasuk I-Radio “I-ROCK” yang menempatkan lagu “Pelangi Hitam” dari TRAUMA (Juni 2002) di posisi teratas chart yang dibuatnya. Posisi ini bahkan sempat bertahan selama 5 minggu berturut-turut. TRAUMA juga sering menghiasi halaman-halaman interview dari berbagai media cetak di tanah air baik fanzine/magazine underground yang berasal dari berbagai kota di Indonesia maupun media-media yang lebih ‘mainstream’. TRAUMA juga kerap mendapatkan tempat di berbagai media cetak yang berasal dari luar Indonesia baik berupa Interview, profil band maupun ulasan album. Album-album TRAUMA juga kerap mendapat respons positif dari banyak label/Magazine di luar negeri seperti: RELAPSE (Usa) atau juga BRUTALIZED Magazine (Usa), bahkan Max Cavalera (SEPULTURA/SOULFLY) sempat memberi komentar lagu-lagu TRAUMA via email.

TRAUMA sempat tampil secara live selama 30 menit dalam sebuah acara televisi yang bejudul “Go-Rock” yang diadakan oleh TVRI di tahun 2002.

TRAUMA selalu berusaha tampil secara maksimal dan orisinil dalam penyuguhan musik death metal yang dimainkannya tanpa menjadi sebuah band ‘copy cat’ band-band manca negara yang sangat banyak memberi pengaruh terhadap keberadaan dan eksistensi TRAUMA.

Akhirnya, pada tanggal 26 Maret 2003, TRAUMA merilis full length album ke-2 via KROSSOVER Records /MUSICA. Album ini diberi title “Paradigma; Demi Hidup Tak Perlu Harus Mati” dan berisikan 11 lagu. Album ini terjual lebih dari 10.000 unit selepas 2 minggu tanggal perilisannya… Video clip dari album ini ; “Api dalam Otak” juga kerap ditayangkan di MTV Indonesia di tahun 2003.

Dan 4 bulan selepas album “Paradigma…” dirilis, sebuah label indie EDELWEISS Production akhirnya juga meriliskan sebuah buku autobiography TRAUMA yang berjudul “Dimensi paradigma”. Buku yang ditulis oleh Nino Aspiranta (Vocalis TRAUMA) ini berisikan lengkap tentang perjalanan karir band ini mulai tahun 1992-2003.

Atas banyaknya permintaan, di Bulan Desember 2004, genap 6 tahun semenjak debut album “Extinction of mankind” dirilis di tahun 1998, akhirnya, VARIANT MUSIC INDONESIA (VMI) dengan dukungan distribusi dari ALFA RECORDS sepakat untuk merilis ulang debut album ini termasuk 1 buah lagu unreleased yang menjadi bonus di dalamnya. Album ini tampil dalam kemasan yang baru (termasuk cover kaset yang baru). Dan lagu andalan “Human Suffering” yang dianggap sebagai ‘lagu kebangsaan TRAUMA’ akhirnya juga dibuatkan video clip. Ini merupakan video clip ke-3 TRAUMA setelah “Penjara Dendam”(METALIK KLINIK II – 2002) dan “Api Dalam Otak” (Album “Paradigma…”- 2003).

Dan dengan line-up terbarunya di tahun 2007: Nino (Vocal), Heila (Guitar), Cokie (Drums) dan Rusdi (Bass) TRAUMA kembali masuk studio relaman dan merampungkan materi album ke-3 yang akhirnya dirilis secara nasional pada bulan Juni 2008 dengan title “DOMINASI KEMENANGAN”

www.traumaindo.com

Underground Fashion Style For Female

Dari jaman dulu sampe jaman sekarang, pakaian tidak pernah lepas dari kaum hawa. Yah, untuk kali ini sich, gue bakalan ngebahas seluk beluk dunia cewe” underground. Untuk sekarang-sekarang ini sich, cewe” underground lebih realistis dan gak muluk-muluk ketimbang cewe-cewe pada umumnya bro! Jadi khusus buat para cowo”, jangan takut berteman ama cewe” tipe ini, coz, mereka juga manusia, sama-sama makan nasi juga toh! Sekarang ini saatnya para cewe” naik daun didunia undergroud neh…

Karena dari sekian banyaknya acara metal/indie/sejenisnya, udah banyak para wanita” (ce ileh bahasanya cuy!) berkeliaran di acara” tsb dengan berpakaian hitam lengkap dengan aksesoris/atribut”nya bergaya sesuai dengan imej nya. Atau juga menggunakan atribut band” favoritnya . Asal tau aja bro,cewe” seperti ini gak hanya sekedar fashionable aja. Setidaknya mereka tau persis lagu”/musik” band” favoritnya juga loh. Waloupun dari luarnya mereka (cewe”) terlihat judes dari penampilannya, tapi sebenarnya mereka sangat ramah dan baik loh,asalkan loe” pada kagak ngusik apa yang mereka sukai..Cewe” ini juga pada dasarnya punya iman yang kuat loh, jadi walau apapun dan sebagaimana pun penampilan mereka, toh mereka tetap taat beribadah.

Apalagi mereka juga punya band sendiri.contohnya, rins dan iwed keduanya vokalis band “GELAP” . Mereka berkomentar tentang underground female : (Sekarang sich, udah maju banget!udah gak dominasi lagi, sekarang lebih berekspresif, bagus aja deh perkembangan buat cewe” underground saat ini. Apalagi banyak yang udah punya nama ,u know lah, jadi gak usah gw sebutin lagi namanya. Dan gw lebih respect ama cewe” yang bener” tau persis apa yang mereka lakukan dan tau jatidiri mereka sebenarnya, gak hanya sekedar ikut2an aja tapi gak tau seluk beluknya, go to hell aja deh!).

Emang sich, kenapa dunia underground lebih indentik ke warna hitam? Emangnya hitam itu udah jadi trademarknya dunia underground? Dari segi baik buruknya gmana? Apa pendapat kalian tentang pandangan negatif khalayak umum? Apa lebih identik sebagai anak bebas yang pemabuk dan pemakai? Gmana cara loe nanggepin kalo cewe underground itu suka di”pakai”? cewe-2 tsb dianggap normal gak sih? Gmana pendapat atau pendangan keluarga mereka?

Nah, sekarang pandangan loe” pada yang menilai tentang cewe2 underground dan gaya berpakaiannya.. Yang penting, menurut gw, mereka punya hak menentukan jalan hidup mereka selama mereka gak menyesal dikemudian hari.

Band Dengan 90 Lagu

Pernahkah kamu mendengar sebuah band membawakan 90 buah lagu, tepatnya 98 buah lagu ? Kalau memang belum pernah coba deh dengerin Eternal Fuck. Band asal Costarica ini beraliran Grindcore/Noise/Comic. Album bertajuk Anal Palace (2008) telah mereka release. Album yang benar-benar “khas bawah tanah” rekaman live recording, yang bisa dikatakan low quality. Kebanyakan berbahasa Spanish.Tapi 90 lagu adalah benar benar ajaib. Mungkin di kalangan kawan-kawan penyuka musik Grindcore/Noise hal ini adalah biasa sekali. Lagu lagu yang dibawakan biasanya dengan kecepatan tinggi, brutal dan noisy. Dan menariknya panjang tiap lagu yang dibawakan selalu tidak lebih dari 2 menit.

Pantes saja mereka bisa membawakan 90 an lagu. Itung-itung sebagai bahan inspirasi, mau mencoba mendengarkan ?

And here is the tracklist.

01 - Los tallos en el culo
02 - Aguas de pulpo
03 - Avalanchas de semitas
04 - 101 orgasmos con el mismo dalmata
05 - Asteroide de moho
06 - La hundo en el sepulcro
07 - Satan sexual
08 - Baila borrachin
09 - Avalanchas de semen
10 - By hill noise
11 - Bonsai de gato
12 - Calamar con ojo izquierdo de abispa diciendole adios a Guanacaste
13 - Capitan hemorragia
14 - Cogiendo mis tumores con pelos
15 - Con los ojos al reves (mirada directo al cerebro)
16 - Corpse boarding
17 - Cosmic carao
18 - Orgasmos de antaño
19 - Por la herida
20 - Lo espero quitarga
21 - Help you
22 - El chancho zombie
23 - G fuckers
24 - El torero eterno
25 - Sopa de asteroides
26 - Acostando cucarachas prehistricas
27 - El Señor solo me dio un huevo
28 - El otro huevo
29 - Imputando tortugas caiman
30 - La isla del trailero piropropilexico
31 - Rescate de topiyo, el violador de espantapajaros
32 - Hell a weaste
33 - Follando carros descuidados
34 - Endocrino tuberculoso
35 - Jack violencia
36 - La casa del culo
37 - Terraplen de orgasmos
38 - Las bolas de Don Juan
39 - Joaquin
40 - Apretado de mocos
41 - El Mopri
42 - Cagando tamal
43 - Migracion denigrante al castillo de los hongos
44 - El mama pichas
45 - El madero sin cabeza
46 - Destripando niños topo
47 - Cuminate
48 - El tronco de mi abuelo
49 - Excrecion zombie
50 - La hormiga de cianuro
51 - Duende indigente
52 - Flautista de Guilleln
53 - Inyecto doce tuteos
54 - Jugo de ancianita
55 - La maldicion del coito sin un huevo
56 - La cucaracha sin dientes para jamar
57 - La mano embarazada
58 - Intro de gallo
59 - La sombra caliente
60 - Los cables se cruzaron
61 - Gallina vampira
62 - Las tetas de la monja
63 - Lamento porcino
64 - Las hienas avicolas
65 - Mascaras de microcaca
66 - Masacre en la morgue
67 - Me gusta comer ciruelas
68 - Manteles anablicos
69 - Morguer king
70 - Matando doce pastillas de acetaminofen
71 - Anaquia vaginal
72 - Penetracin pulmonar a la llorona con todo y chiquito
73 - Robot impotente
74 - Salchichon de zancudo
75 - Pariendo noise
76 - Puedo quedarme con las orejas
77 - Prostitucion canibal
78 - Tolola
79 - Espasmos ancestrales
80 - Stigmata of the inculiable
81 - Secuestrando indigentes minusvalidos
82 - Pulpo succionador de fluidos vaginales oriental
83 - Sexo con bolsas de basura del San Juan De Dios
84 - Terodactilo panadero
85 - Sexo con ratas muertas
86 - Tortas de sarro
87 - Tribalbrutalextremeneocomparsicpornonoise
88 - Troncho fuck
89 - Tunicas de cadaver morboso
90 - Sangre con mocos
91 - Ubres de caca
92 - Dispaly
93 - Yo sufrir mucho hijueputa
94 - Zanate pubertado
95 - Violado por una sanguijuela
96 - Violado por panchito
97 - Violador marino
98 - Amigo XP

Angtoria


Sarah Jezebel Deva, vokalis bertubuh subur, yang merupakan backing vocal untuk band Black Metal, Cradle Of Filth, ternyata memiliki energi yang berlebih. Dibuktikan dengan dibentuknya band Angtoria. Band beraliran gothic yang didirikannya bersama dua bersaudara asal Swedia Chris Rehn dan Tommy Rehn.

Dimulai saat pertemuan Sarah dan Chris pada saat melakukan tour bersama di tahun 2001.Kemudian pada tahun 2002, mereka membuat demo yang diantaranya berisi lagu cover dari Kylie Minogue berjudul Confide in Me. Di tahun 2005 band ini menjadi pemenang dalam kompetisi band yang diadakan oleh gothmetal.net. Yang akhirnya membawa grup ini dalam album kompilasi. Pada akhir tahun 2005, akhirnya Angtoria berhasil menandatangani kontrak untuk rekaman dengan label Listenable Records.

Debut album Angtoria berisikan 13 lagu berjudul God Has a Plan For Us All . Merupakan bukti bahwa Cradle Of Filth tidak salah dalam memilih backing vocal bersuara empat oktaf yang handal ini. Dan nama Angtoria pantas disejajarkan dengan band gothic yang lain.

Official Angtoria Site

Official Angtoria Myspace

Download albums

Walls of Jericho - The American Dream

Akhirnya seperti dijanjikan oleh Walls of Jericho. Album baru mereka akhirnya dirilis juga. Dan album ini memang “really heavy” . Album berisi 12 lagu ini benar-benar terasa berat, menghajar telinga. Setelah bermain main dengan hawa akustik di dalam mini album Redemption. The American Dream ini cukup membuat dada bergetar.

Tracklist:

  1. The New Ministry
  2. II. The Prey
  3. The American Dream
  4. Feeding Frenzy
  5. I. The Hunter
  6. Famous Last Word
  7. A Long Walk Home
  8. III. Shock Of The Century
  9. Discovery Of Jones
  10. Standing On Paper Stilts
  11. Night Of A Thousand Torches
  12. The Slaughter Begins

Symphonic Power Metal

Rhapsody of Fire adalah grup band Italia yang mengusung genre Power Metal. Musik yang sarat dengan ketukan drum yang cepat dan distorsi gitar. Namun karena faktor lirik lagu yang bertemakan fantasi, epik atau legenda, serta iringan kibor yang operatik atau klasik sering disebut sebagai genre Symphonic Power Metal. Grup band lainnya akhirnya saya dengarkan (juga saya gemari) seperti Stratovarius (Finlandia), Kamelot (Amerika), Dark Moor (Spanyol) atau Sonata Arctica (Finlandia).

Di tahun 1997-an satu grup band dari Finlandia muncul ke panggung musik Eropa, mengusung musik Metal yang simfonik, namun tidak sekeras/secepat Rhapsody of Fire atau Stratovarius. Adalah grup band Nightwish yang dianggap menjadi pelopor genre Symphonic Metal. Musik Metal yang sarat dengan nuansa simfonik (instrumen senar/string seperti biola/piano dan instrumen angin/wind seperti flute) serta vokal wanita yang sopran atau mezzo-sopran. Kadang-kadang dibumbui dengan vokal grunt/death, vokal serak yang suwer tidak jelas seperti vokal band Kreator di era Thrash Metal dulu. Sering disebut sebagai musik Beauty and The Beast, kecantikan vokal sopran wanita dipadu dengan vokal liar laki-laki.

Band-band genre Metal juga ikut terpengaruh unsur simfonik ini, biasanya membuat rekaman/konser dengan paduan orchestra, seperti Metallica dan Scorpions yang merilis album orkestra di tahun 2000-an. Namun rasanya kurang luar biasa jika dibandingkan dengan grup band Rock yang sudah dari dulu berkolaborasi dengan London Philharmonic Orchestra.

Genre Symphonic Metal ini sering juga disebut Gothic Metal pada awal perkembangannya. Namun saya kurang mengerti unsur gothic pada lagu atau melodi, yang saya tahu mungkin hanya faktor visual dan ruang seperti halnya pada Arsitektur Gothic di era kebangkitan kembali atau Renaissance. Suasana yang kelam, ruang yang menjulang, struktur flying butress, kastil yang menjulang, pintu besar yang melengkung lancip, fashion dan make-up pucat bergaris mata hitam, korset, gaun putih atau hitam, lipstik hitam seperti Lord Dracula, legenda vampire dan sebagainya. Jejak-jejak arsitektur era Gothic memang bertebaran di wilayah Eropa, dari timur Hungaria hingga barat Spanyol. Mungkin yang saya ingat hanya Antoni Gaudi, tapi karyanya bukanlah gothic, melainkan art nouveau.

Selain Nightwish yang diusung aransemen kibordis Tuomas Holopainen dan soprano Tarja Turunen, band lain yang cukup terkenal adalah After Forever dari Belanda yang dimotori Mark Jansen dan soprano Floor Jansen. After Forever dan Nightwish seolah bersaing di kancah Symphonic Metal. Sulit untuk mengatakan mana yang lebih bagus.

Within Temptation
Di saat yang sama, juga dari Belanda, Within Temptation menambah khazanah genre ini. Dimotori oleh gitaris Robert Westerholt dan soprano Sharon den Adel. Dibandingkan dengan After Forver dan Nightwish, Within Temptation tidak mengusung unsur power/speed.


Epica
Tahun 2002, Mark Jansen keluar dari After Forever karena perbedaan visi musiknya. Di tahun berikutnya Mark Jansen bersama mezzo-soprano Simone Simons –yang masih berusia 18 tahun– menelurkan album The Phantom Agony dalam usungan grup band baru bernama Epica, yang diilhami oleh album Epica karya Kamelot.

Tanggal 26 September kemarin adalah hari yang ditunggu-tunggu para penggemar Nightwish. Nightwish meluncurkan album terbarunya, Dark Passion Play, dengan formasi baru vokalis Anette Olzon. Tiga lagu dari calon album tersebut sudah beredar di internet sebagai promo warna musik mereka yang baru tanpa soprano Tarja Turunen. Memang selalu kritikal saat grup band yang sudah established dengan format lama menawarkan sesuatu yang baru kepada penggemarnya. Seperti saat Genesis tanpa Peter Gabriel, seperti Rush yang menawarkan musik metal yang lebih lembut dengan synthesizer/organ serta drum elektrik, seperti Dewa 19 tanpa Ari Lasso, seperti God Bless tanpa Ian Antono, Marillion tanpa Fish dan lain sebagainya.

*Dari Berbagai Sumber

Jumat, 17 Oktober 2008

Dream Theater – Systematic Chaos (2007)

Dream Theater, my most favorite band, sudah meluncurkan album studionya yang ke sembilan (jika ditambah album live, maka totalnya adalah 14 album) berjudul Sytematic Chaos 5 Juni 2007 yang lalu. Namun, perkenalan penulis dengan album ini dimulai dari sebulan sebelumnya, 6 Mei, di suatu diskusi maya di http://idtfc.com/forum. DT merilis satu lagu “pemanasan” di website resmi label rekamannya www.roadrunnerrecords.com, yaitu Constant Motion (CM) dalam bentuk file mp3.

Pertama kali menyetel CM, kesan pertama yang ada dalam benak penulis adalah “hitam” atau “gelap”. Memang DT adalah sebuah band metal progresif. Namun, lagu CM ini tampil lebih “gelap” dibanding album Train of Thought (ToT) dan Six Degrees of Inner Turbulance (SDOIT) yang sudah “gelap”. Maksud kata-kata “gelap” atau “hitam” disini yaitu musik yang dibalut distorsi gitar yang sangat “tebal” atau “heavy” layaknya Pantera atau Metallica namun tetap dibalut permainan instrumen yang “gila” khas DT yang “Pantera nor Metallica absolutely would never come close to”. Lalu, pukulan drum Mike Portnoy (MP) terdengar lebih garang dan sangat dominan disini. Namun, ciri progresif sangat kentara di lagu ini dengan adanya hitungan-hitungan waktu yang ganjil (dalam arti sebenarnya, yaitu lawan dari genap), struktur komposisional yang kompleks, dan permainan instrumen yang berbelit-belit. Semuanya ini khas DT atau khas musik progresif. Mendengarkan CM sampai tuntas menimbulkan kepuasan tersendiri, dan saya yakin itu yang dirasakan DT mania di seluruh dunia saat mendengar lagu ini untuk pertama kalinya. Rasanya, kekangenan akan album baru DT selama dua tahun terbayar sudah. Di bagian tengah lagu, penulis sempat kagum pada part instrumental yang dilatari aksi solo drum MP yang wowww! (ada yang bisa meniru?).

Beberapa hari kemudian, penulis bisa mendapatkan keseluruhan albumnya dalam bentuk mp3. Padahal, belum resmi diluncurkan. Kesan hitam yang muncul di awal tadi, mulai sirna saat mendengar dan mencermati album ini secara keseluruhan.
Secara keseluruhan, band ini telah melakukan perubahan besar pada sound. Album sebelumnya, Octavarium (8vm), dianggap sebagai titik akhir untuk reinkarnasi band setelah 20 tahun berkarir. Tidak ada lagi nugget-nugget (simbol dari pesan-pesan tersembunyi) yang menjadi ciri penting album 8vm. Dus, tampak peningkatan skill masing-masing personal yang sebenarnya merupakan fungsi dari jam terbang mereka di kancah musik. Dan, yang penulis kagumi, ada peningkatan kualitas yang luar biasa pada vokal James Labrie (JL) dibanding album-album sebelumnya. Hal ini bisa diamati terutama di lagu-lagu balad seperti Forsaken dan The Ministry of Lost Soul (TMoLS).

Sebenarnya, pola permainan individual DT masih terdengar sama dengan yang terdahulu. Meski menurut penulis, dengan “warna” baru ini, peran kibor dan bass sedikit dikorbankan oleh distorsi gitar JP yang sangat dominan dan gebukan drum MP. Namun, pola itu sebenarnya sudah tampak dari album-album sebelumnya, dan disini lebih terasa nuansanya. Ketika JP dan MP berperan sentral dalam permainan instrumental, Jordan Rudess (JR, kibordis) turut membangun jalinan instrumen dari “belakang” dan terkadang meledak dengan aksi solo yang “gila” atau terkadang ikut mengimbangi permainan speed JP. Lalu, John Myung (JM, basis) mendukung lewat fondasi bass yang mampu “mengisi” bagian instrumental dengan sangat elegan.

Kesan progresif sudah dikeluarkan di awal album yaitu lagu In The Present of Enemy I (ITPOE I). Tiga ciri metal progresif, yang sudah saya sebut di atas, sudah bisa dinikmati dari hitungan nol lagu tsb. Beberapa efek digunakan bergantian untuk mendukung tema epik (ciri progresif ala DT). Butuh waktu 5 menit untuk mulai mendengarkan vokal JL di awal album ini.

Dari judul dan lirik-liriknya, album ini terlihat sangat epik. Dua jempol layak diacungkan buat JP dan MP. Keduanya jenius dalam menulis lirik yang dalam dan penuh arti. Lagu CS dan Repentace masih bercerita tentang kisah perang MP melawan drug & drink, seperti lagu The Glass Prison (SDOIT), This Dying Soul (ToT), dan Root of All Evil (8vm). Namun, bukan kelanjutan dari RoAE karena album ini dinyatakan tidak berhubungan dengan album-album sebelumnya (DT selalu menghubungkan antar album, seperti dengan menggunakan nada terakhir di album sebelumnya sebagai nada pertama di album setelahnya). Lagu Repentace dibuka dengan nada dan lirik This Dying Soul. Apakah DT sudah kehabisan ide? Tidak. Ini bukti kejeniusan mereka dalam mengkoneksi dan merangkai antar lagu. Fragmen-fragmen lagu yang terangkai seperti ini banyak dijumpai di album 8vm, malah menjadi ciri DT.
Lalu, berangkat dari In The Name of God di ToT dan Sacrified Sons di 8vm, DT mulai menggemari menulis lirik tentang perang. Rupanya, berlarutnya permasalahan perang Irak yang berbuntut protes panjang rakyat AS tak luput dari jangkauan DT. Topik peperangan yang berakar dari spirit kepercayaan di Timur Tengah tergambar di lagu ITPOE I dan II (pembuka dan penutup album), Prophets Of War, dan TMoLS. Yang terakhir disebutkan ini adalah lagu favorit penulis. Lagu berdurasi hampir 15 menit yang penuh “jiwa”, yang dilukiskan dengan sentuhan melodi gitar JP yang sangat epik dan dibawakan oleh vocal yang sempurna oleh JL.

Warna ballad yang diusung Forsaken, tembang kedua, sangat berbeda dengan tema ballad di album-album sebelumnya seperti Spirit Carries On atau Anna Lee. Kesan distorsi yang heavy serta permainan kibornya mengingatkannya pada “Call Me When You’re Sobber” milik Evanescence.

Lagu ke empat, The Dark Eternal Night, adalah lagu ter’heavy’ dari keseluruhan lagu di album ini. Walau terkesan heavy metal dan liar, warna progresif tetap muncul terutama di bagian instrumental yang lagi-lagi, what an amazing intricacy! Sebuah warna baru dari musik progresif ala DT. Di sini, suara JL sering dibumbui oleh suara MP yang memang berkarakter lebih berat.

Tak ada gading yang tak retak. Begitu pula album ini. Satu hal yang penulis sayangkan adalah adanya sempilan aliran/warna “Muse” yang sangat kentara di lagu Prophet of War yang mengingatkan DT mania pada lagu Never Enough di 8vm. Lagu ini merusak keseluruhan tatanan warna musik baru DT yang ingin diperkenalkan ke penggemarnya.
Judul album, Systematic Chaos, mungkin (menurut penulis) berangkat dari definisi metal progresif, yaitu (seperti yang telah disebutkan di atas) keruwetan struktur dan komposisi lagu. Keruwetan (intricacy) atau kekacaubalauan biasa disebut dengan istilah “Chaos”. Namun, dibalik keruwetan itu, terdapat pola atau susunan keteraturan yang sistematik. Dari sinilah terbilang istilah Systematic Chaos. Sepertinya, dari album ini, mereka mengkonstruksi definisi musik metal progresif itu ke dalam lagu-lagunya.

Keseluruhan, album ini luar biasa. Wajib dikoleksi untuk para penggemar Dream Theater, pecinta musik beraliran metal, atau bahkan untuk band-band sebagai referensi bermusik. Meski musik mereka penuh balutan skill individual yang luar biasa, namun jangan harap album ini bakal meledak di seluruh dunia, karena konsep “systematic chaos” –nya yang kurang familiar di kuping umum.
Last, listening to their music will present you apparently a worthwhile (and educational) musical experience.

Dream Theater

Dream Theater adalah salah satu grup progressive metal paling terkemuka di dunia saat ini. Didirikan oleh Mike Portnoy, John Petrucci dan John Myung, mereka telah merilis delapan album studio, empat rekaman live dan satu album pendek (EP). Album pertama mereka, When Dream And Day Unite direkam dengan Charlie Dominici sebagai vokalis dan Kevin Moore sebagai pemain keyboards. Dominici berusia jauh lebih tua daripada anggota lainnya dan ingin memainkan musik yang lain, sehingga ia kemudian keluar dari grup. Mereka kemudian mencari pengganti yang ideal selama 2 tahun sampai akhirnya bertemu dengan James LaBrie, vokalis dari Kanada melalui audisi.
Bersama LaBrie mereka merekam Images And Words yang melambungkan nama mereka ke jajaran internasional dengan hit "Pull Me Under" dan "Another Day". Awake adalah album terakhir mereka dengan Moore yang kemudian digantikan oleh Derek Sherinian untuk album Falling Into Infinity. Pada akhirnya Sherinian juga digantikan oleh Jordan Rudess dan formasi ini masih bertahan sampai hari ini. Mereka telah meluncurkan album konsep Metropolis 2: Scenes From A Memory dan album ganda Six Degrees Of Inner Turbulence. Pada tahun 2003 mereka memutuskan untuk merekam album non-konsep Train Of Thought yang sangat dipengaruhi oleh grup thrash metal seperti Metallica.
Album terbaru mereka yang berjudul Octavarium dikeluarkan pada tanggal 7 Juni 2005 dan selain merupakan album studio kedelapan juga mengandung delapan lagu.
Setelah Dream Theater meluncurkan album Live mereka dalam memperingati 20 tahun Dream Theater terbentuk yang berjudul Score yang direkam pada tanggal 1 April 2006 di Radio City Music Hall,US. Mereka kembali bersiap meluncurkan album ke sembilan mereka dengan membawa bendera label record baru yaitu RoadRunner Records, mereka telah merampungkan album Systematic Chaos yang berisi 8 lagu dan akan diluncurkan pada tanggal 5 Juni 2007 di US.

Sejarah Dream Theater
Dream Theater dibentuk pada bulan September 1985, ketika gitaris John Petrucci dan bassis John Myung memutuskan untuk membentuk sebuah band untuk mengisi waktu luang mereka ketika bersekolah di Berklee College of Music di Boston. Mereka lalu bertemu seorang pemain drum, Mike Portnoy, di salah satu ruang latihan di Berklee, dan setelah dua hari negosiasi, mereka berhasil mengajak Mike Portnoy untuk bergabung. Setelah itu, mereka bertiga ingin mengisi dua tempat kosong di band tersebut, dan Petrucci bertanya kepada teman band, Kevin Moore, untuk menjadi pemain keyboard. Dia setuju, dan ketika Chris Collins diajak untuk menjadi vokalis, band tersebut sudah komplit.
Dengan lima anggota, mereka memutuskan untuk menamai band tersebut dengan nama Majesty. Menurut dokumentasi DVD Score, mereka berlima sedang mengantri tiket untuk konser Rush di Berklee Performance Center ketika mendengarkan Rush dengan boom box. Portnoy lalu berkata bahwa akhiran dari lagu tersebut (Bastille Day) terdengar sangat "majestic". Pada saat itulah mereka memutuskan Majesty adalah nama yang bagus untuk sebuah band, dan tetap bagus sampai sekarang.
Pada saat - saat tersebut, Portnoy, Petrucci dan Myung masih berkutat dengan kuliah mereka, juga dengan kerja paruh waktu dan mengajar. Jadwal mereka menjadi kiat ketat sehingga mereka harus memutuskan antara mengejar karir di bidang musik atau mengakhiri band Majesty. Namun akhirnya Majesty menang dan mereka bertiga keluar dari Berklee untuk berkonsentrasi di karir musik. Petrucci mengomentari tentang hal ini di dokumentasi DVD Score, berkata bahwa saat tersebut sangat susah untuk meminta kepada orang tuanya untuk pergi ke sekolah musik. Dan lebih susah lagi untuk menyakinkan orang tuanya agar ia boleh keluar dari sekolah.
Moore juga akhirnya keluar dari sekolahnya, SUNY Fredonia, untuk berkonsentrasi dengan band tersebut.Sedangkan nama Dream Theater dipakai oleh mereka sebagai nama yang beru ketika mereka sedang melakukan pertunjukan,terdapat nama band asal Las Vegas yang sama dengan nama band mereka yaitu majesty,dan band asal Las Vegas ini telah lebih dulu menggunakan nama Majesty dan telah dipatenkan dan kemudian atas saran dari ayah Mike Portnoy ayahnya mengusulkan menggunakan nama Dream Theater,nama ini diambil dari nama sebuah gedung pertunjukan Monterey, California,kemudian mereka menyetujui untuk mengganti nama dengan nama Dream Theater sampai sekarang ini.Setalah mengganti nama band mereka,kemudian mereka juga mengganti logo band mereka yang sekarang dikenal sebagai majesty logo, majesty logo ini dibuat oleh Charlie domichi vokalis pertama meraka yang diambil dari simbol Mary Queen of Scots,dan di modifikasi oleh charlie sehingga terbentuklah majesty logo seperti sekarang ini,dan majesty logo ini pertama kali digunakan dalam album pertama mereka yaitu When Dream And Day Unite,dan majesty logo ini merupakan sebuah artwork pertama mereka dalam album tersebut,dan logo majesty ini pertama kali digunakan oleh Mike Portnoy dan Charlie Dominichi sebagai tato di lengan mereka.

Karakteristik penulisan lagu
Beberapa teknik penulisan lagu yang unik telah dilakukan oleh Dream Theater, yang kebanyakan terjadi di masa - masa sekarang, ketika mereka bisa bereksperimen dengan label rekaman mereka sendiri.
Dimulai dengan Train of Thought, Dream Theater sudah memulai memasukkan elemen - elemen kecil dan tersembunyi di musik mereka, dan memuat elemen tersebut kepada peminat yang lebih fanatik. Karakteristik yang paling terkenal (yang biasa disebut "nugget") tersembunyi di "In the Name of God", yang merupakan sandi morse dari "eat my ass and balls" (makan pantatku dan penisku), yang merupakan kata - kata terkenal dari Mike Portnoy. Sejak saat itu, banyak peminat - peminat Dream Theater mulai berusaha menemukan hal - hal kecil yang biasanya tidak menarik bagi peminat biasa.
Beberapa dari teknik mereka yang terkenal termasuk:
• Suara dari fonograf di akhiran dari "Finally Free" di album Scenes from a Memory adalah suara yang sama di awalan "The Glass Prison" di album berikutnya, Six Degrees of Inner Turbulence. Dan akhiran kunci terakhir di "As I Am" sama dengan kunci yang digunakan di album selanjutnya, Train of Thought. Juga, not piano yang dimainkan di akhiran "In the Name of God" di 'Train of Thought adalah not yang sama dengan pembukaan "The Root of All Evil" di album berikutnya, Octavarium.
• Tiga bagian dari "The Glass Prison" di Six Degrees of Inner Turbulence, dua bagian dari "This Dying Soul" di Train of Thought dan dua bagian dari "The Root of All Evil" di Octavarium menunjukkan tujuh poin pertama dari dua belas poin - poin di program Alcoholics Anonymous oleh Bill Wilson, yang mana program itu diikuti oleh Mike Portnoy. Ia juga berkata bahwa ia akan membuat lagu - lagu lain yang memuat lima program lainnya, yang akan ditujukan untuk Wilson
• Dream Theater kadang menggunakan teknik penulisan lagu dimana bagian - bagian dari sebuah lagu dikembangkan tiap kali mereka dimainkan. Contohnya, lagu "6:00" dari Awake. Setelah awalan lagu, mereka hampir memainkan chorus, tapi mengulang lagu tersebut dari awalan lagi (di menit 1:33). Dan ketika chorus sudah seharusnya dimainkan pada saat berikutnya, mereka mengulang lagi dari awalan, di menit 2:11. Teknik ini bisa juga ditemukan di "Peruvian Skies", "Blind Faith" dan "Endless Sacrifice"
• Penggunaan notasi yang berulang - ulang juga digunakan, yang sudah dikenal dari lagu - lagu Charles Ives, contohnya:
o Tema lagu "Wait for Sleep" muncul di "Learning to Live" (menit 8:11) dan juga muncul dua kali di "Just Let Me Breath" (menit 3:39 dan 5:21)
o Tema lagu "Learning to Live" muncul di "Another Day" (menit 2:53)
o Tema lagu "Space-Dye Vest" digunakan beberapa kali di album Awake.
o Tema pembukaan dari "Erotomania" digunakan di "Voices" di Awake (menit 4:51).
o Satu dari melodi - melodi di "Metropolis Pt 1 (The Miracle and the Sleeper)" diulang di chorus kedua di "Home" dari Metropolis Pt 2 (Scenes From A Memory), dengan cuma pengubahan satu kata. Beberapa lirik dari "Metropolis Pt 1" just digunakan di "Home". Pada dasarnya, keseluruhan album "Scenes From A Memory" penuh dengan musikal/lirikal/konseptual variasi dari elemen - elemen musikal dari "Metropolis Pt 1" dan "The Dance of Eternity" sebenarnya dibangun dari variasi - variasi elemen musik di lagu - lagu dalam album tersebut.
o Bagian - baguan dari tiap lagu di album "Octavarium" telah digunakan di bagian kelima dari lagu berjudul sama, "Octavarium".
• Six Degrees of Inner Turbulence, studio album ke enam mereka, memuat enam lagu dan mempunyai karakter - karakter angka enam di judul - judul lagunya. Train of Thought, studio album ke tujuh mereka, memuat tujuh lagu. Octavarium, studio album ke delapan mereka memuat delapan lagu dan judul albumnya diambil dari kata octo, yang merupakan kata Latin yang berarti delapan, berarti satu oktaf dari istilah musik, yang mana merupakan jarak dari satu not ke not lain adalah delapan not di tangga nada diatonik. Judul lagi dari CD ini adalah 24 menit, kelipatan dari 8. Halaman depan albumnya juga memuat karakter - karakter yang berhubungan dengan 5 dan 8. Contohnya, satu set dari kotak - kotak putih dan kotak - kotak hitam, mempunyai arti satu oktaf dari piano.
• Lagu "Octavarium" dulunya ingin diakhiri dengan seruling yang bergema serupa dengan awalan lagu tersebut. Namun diganti dengan not piano yang sama dari awalan album Octavarium. Mike Portnoy telah mengatakan bahwa seri awalan - akhiran album akan berhenti disini, karena album ke sembilan mendatang tidak akan diawali dengan akhiran "Octavarium"
• Analisis detil tentang "nugget" di "Octavarium" (disebut oleh Mike Portnoy sebagai "sebuah nugget raksasa") telah dipublikasikan di sebuah situs independen.
• Systematic Chaos Album ini di release per-5 Juni 2007 dengan 2 model design sampulnya.
Yang reguler bergambar interchange jalan tol dengan warna hijau pucat kekuning-kuningan sementara yang special edition bergambar traffic light yang digantung diatas kawat berduri dengan background warna oranye kehitaman.
album ini tetap berpegang pada progressive dengan corak baladda yang di mix dengan epic-metal alla metallica. Lirik pada album ini agakberbeda dengan album2 terdahulu, disini DT menghadirkan beberapa lirik tentang fantasi mereka, tetapi lirik tentang personal tetap mereka pertahankan.
Biodata:
Asal=Boston, Massachusetts
Genre=Progressive metal
Tahun aktif=1985 - sekarang
Label=Atlantic, RoadRunner Records

Situsweb:
Official Website :
www.dreamtheater.net

Indonesian DT Website :
www.idtfc.com


Anggota sekarang
James LaBrie
John Myung
John Petrucci
Mike Portnoy
Jordan Rudess

Mantan anggota
Derek Sherinian
Kevin Moore
Charlie Dominici
Chris Collins

Source: http://idtfc.com/forum/showthread.php?t=451