Jumat, 17 Oktober 2008

Serba - Serbi Musik Metal

Musik yang ditampilkan grup band Bezide di Bandung, Jawa Barat, masuk dalam aliran underground. Musik superkeras ini berasal dari luar negeri, tepatnya Amerika Serikat. Kendati jenis musiknya sulit dicerna masyarakat umum, underground selalu punya pengikut fanatik.
Jenis musik underground memiliki beberapa aliran di antaranya black metal, death metal, brutal death, grincore, gothic, punk, dan hard core.
Komunitas penggila musik underground di negeri ini mulai berkembang sekitar tahun 1990-an. Saat itu muncul grup-grup underground yang beberapa di antaranya kini menjadi 'superstar' di dunia underground Tanah Air. Misalnya saja Tengkorak, Siksa Kubur, Jenazah, Santet, Trauma, Thrasline, Noxa, Purgatory, dan Inner Beauty.
Di tahun-tahun itu pula, di Jakarta, konser musik underground digelar hampir setiap minggu. Konser biasanya diadakan di kampus atau kafe, seperti Guinea (Cikini), Parkit (Sabang), Kampus Jayabaya (Pulomas), Kampus Gunadarma (Depok), ABA-ABI (Matraman), Kafe Poster (Museum Satria Mandala), dan banyak tempat lainnya.
Konser tersebut juga jadi ajang pertemuan penggemar musik ini. Mereka datang dengan pakaian dan atribut yang didominasi warna hitam. Tampang mereka pun kelihatan kucel, lusuh, dan acak-acakan. Saat ini, di Jakarta konser seperti itu sudah jarang, bahkan sama sekali tidak terdengar gaungnya. Kendati begitu peminatnya masih banyak.
Kembali ke soal musik underground, jenis atau aliran yang paling keras di kelompok ini adalah aliran black metal dan death metal. Lirik lagu black metal biasanya berbau kegelapan, memuja setan, mistik, dan sihir. Tidak jauh beda dengan death metal yang selalu mengangkat tentang kematian atau alam kubur dalam lirik lagunya.
Karakter vokal kedua aliran tersebut hampir sama dan sangat unik karena syair yang diucapkan oleh vokalis tidak terdengar jelas. Bahkan, cenderung sekadar teriakan atau mirip suara monster. Performa mereka di panggung pun cukup ekstrem dan sedikit sadis, misalnya menggigit burung atau kelinci hidup.
Soal permainan musik, aliran underground lumayan sulit karena ritmenya yang sangat cepat. Jadi, untuk menguasai musik underground, dibutuhkan skill permainan cepat dan butuh latihan yang lumayan lama.
Untuk skala dalam negeri, underground masih sulit masuk industri rekaman. Hal itu disebabkan sebagian orang menganggap citra underground sebagai musik yang keras dan sulit dicerna pendengar umum.
Musik underground biasanya tidak memasarkan produk mereka melalui major label atau perusahaan rekaman besar seperti Sony BMG, Warner Music, EMI, atau Musica Studio. Mereka merekam dan mengedarkan album mereka secara independent atau indie label dan diedarkan sendiri dengan cara menjalin kemitraan dengan bisnis serupa yang ada di dalam negeri atau bahkan mancanegara.
Hal ini dilakukan, misalnya, oleh grup Tengkorak. Dalam sebuah situs diungkapkan, grup ini merajut kerja sama dengan pebisnis Jepang, Jerman, Perancis, Spanyol, dan sebagainya. Pola pemasaran ini dinilai lebih efektif. Itu terbukti dari larisnya karya Tengkorak yang dijual dalam bentuk CD ataupun kaset serta beragam merchandise yang mereka produksi.
Produk kelompok-kelompok musik seperti Tengkorak mudah dijumpai di distro-distro. Di sana juga dijual aneka produk yang berhubungan dengan musik underground, bukan cuma kaset atau CD tapi juga aksesori seperti kaus, sepatu, gelang, kalung, dan atribut lainnya.
Komunitas underground adalah komunitas pemusik yang agresif, namun terhambat oleh nilai-nilai dan norma yang berkembang dalam keluarga dan masyarakat. Mereka melepaskannya lewat musik ini.
Namun, satu hal yang cukup membanggakan buat anak-anak underground. Mereka amat solid dan saling menghargai satu sama lain, serta saling memberi dan mengisi dalam kebersamaan.

Tidak ada komentar: