Death Magnetic
Warner Bros
"Go back to what you were thinking in Master of Puppets," perintah produser Rick Rubin secara tegas kepada Metallica, dua tahun lalu. Saya bayangkan Jaymz dkk pasti gemetar dan berkeringat dingin saat mendengar kalimat tersebut. Lalu menjadi gusar di tengah segala ekspektasi pribadi, tuntutan publik, serta kemampuan mereka sendiri. Sebuah terapi untuk kembali muda dan garang di tangan zen master Rick Rubin?! Oke, sekarang mari kita analisa hasilnya satu-persatu. Track pertama That Was Just Your Life sedikit membuka perjalanan Metallica ke masa lalu dengan riff gitar yang biasa kita kenal dalam album And Justice For All. Kemudian The End of The Line melangkah pada formula 'album hitam'-nya. Aksen gitar Broken, Beat & Scarred tampak tegas namun dengan tatanan yang lebih rapi dan clear. Justru The Day That Never Comes yang dijagokan sebagai singel pertama itu yang sangat aneh. Terus terang, melodi gitarnya agak mengganggu. Terdengar sangat 'melayu' sekali. Seperti ingin menjadi Fade To Black yang kedua, tapi hasilnya terlalu cengeng. Riff gitarnya juga cukup murahan - mengambil ending dari One. Akh, siapa yang mau percaya Metallica kembali garang kalau lagu ini yang pertama kali diperdengarkan kepada publik?! Metallica yang saya kenal dulu selalu punya banyak ide dan tidak pernah mengulangi riff yang sama. Mending skip saja ke All Nightmare Long. Yang ini masih lumayan. Keras sekaligus catchy. Cyanide cuma sangar judulnya saja, sedangkan musiknya adalah mimpi buruk ala St.Anger. Mencoba progresif yang groovy, namun jatuhnya berantakan. Jika satu seri aja sudah bagus, kenapa musti dibikin sekuelnya?! Ya, Jaymz dkk tidak pernah belajar tentang hal itu. Masih saja ngotot dan keras kepala. Seperti sekuelnya yang kedua, The Unforgiven III juga seharusnya tidak pernah diciptakan. The Judas Kiss seakan melirik episode Load yang hard-rocking dengan lirik yang agak 'evil'. Suicide & Redemption adalah nomor instrumentalia berdurasi hampir sepuluh menit yang langsung mengingatkan pada To Live Is To Die dari album And Justice For All. Namun yang ini terlalu monoton dan bikin boring. Pamer skillnya juga masih di ambang rata-rata. Sungguh track yang mubazir dan tidak efisien. Setelah hampir putus asa, pencarian saya akan jejak Master of Puppets baru ketemu di lagu terakhir, My Apocalypse. Speed, fast and thrashy. Sangat delapan-puluhan sekali. Seru dan klasik. Lucu juga membaca lirik Jaymz yang agak 'gore' dan mematikan. Meski tidak berarti 'save the best for the last', namun track yang terakhir tadi cukup membahagiakan. Setidaknya ikut membayar janji-janji dari album yang paling ambisius sepanjang karir Metallica. Yah, Jaymz dkk yang sudah berumur ini seakan mengalami 'midlife crisis' ketika dituntut untuk kembali muda dan garang. Seperti terbebani oleh kenyataan dan masa lalu. Jika dibandingkan, hasilnya memang tidak sekeras empat album pertama mereka dulu. Kasarnya ini cuma sekedar mengambil spirit dari Master of Puppets, mencuri progresi panjang ala And Justice For All, dan bermain catchy seperti di Black Album - plus beberapa kesalahan yang tidak perlu warisan dari Load dan St.Anger. Ini seperti album baru yang ingin meniru mentah-mentah semua diskografi lawas mereka. Meski tampak kehabisan akal, tapi setidaknya kita masih bisa mendengar niat baik mereka untuk kembali ke 'jalan yang benar'. Untung Jaymz dan Kirk sudah mulai berani lagi memainkan satu hal yang tidak kita dengar pada album St.Anger, yaitu solo gitar. Serangan riff gitar mereka mulai kembali dan membalas dendam. Karakter snare-drum Lars juga agak mendingan, kembali normal, dan tidak ngawur seperti di album sebelum ini. Meski harus diakui power drumming-nya sudah berkurang, serta minim variasi. Tapi siapa sih yang bisa mengeluarkan Lars dari Metallica?! Jadi kita hanya bisa maklum saja. Kalau Rob Trujillo? Oh, si 'gorila' itu masih ada dan mulai mengimbangi dengan alunan bass-nya. Tidak menonjol, tetapi juga tidak merusak. He was saved, and playing nothing. "Kami akan coba memainkan 'musik kemarin' dengan 'sound hari ini'" kata Jaymz ketika rekaman. Sejak awal, saya tidak optimis tetapi juga menolak untuk pesimis. Death Magnetic adalah rilisan dalam artwork peti mati yang mungkin maksudnya sebagai tanda kebangkitan mereka dari kubur - atau justru persiapan untuk upacara pemakaman Metallica setelah 17 tahun terakhir ini 'menggali kuburnya sendiri'?! Mmhh, sulit untuk dipastikan. Sebagai seorang motivator, terapi Rick Rubin mungkin kurang ampuh, tetapi cukup membesarkan jiwa muda Jaymz dkk untuk keluar dari krisis musikal mereka. Tawaran baru untuk para fans Metallica sekarang ini adalah ; melupakan mereka atau memaafkan mereka?! Sori, saya pun belum punya jawaban... [Samack]Source : www.apokalip.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar