Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Oktober 2008

As I Lay Dying, Apa Dan Siapa

As I Lay Dying adalah band metalcore asal San Diego California. Band yang memiliki gaya bermusik yang cukup unik ini menggabungkan musik metal yang berbasis pada riff riff melodius ala Gothenburg Sound , seperti In Flames dan At The Gates dengan komposisi ringan ala musik Punk sehingga mudah dicerna dan disimak bahkan oleh para pendengar musik rock/metal yang terhitung baru mendengar lagu lagu dari mereka. Nama band ini berasal dari novel William Faulkner yang dicetak sekitar tahun 1930’an berjudul As I Lay Dying yang menceritakan kehidupan keluarga petani Amerika yang religius.Band ini kini digawangi oleh Tim Lambesis,sebagai vokalis,dan leader dari band ini, kemudian drummer muda enerjik dan sangat berbakat Jordan Mancino. Dual shredder yang memperkuat dari sisi riff gitar, Nick Hipa dan Phil Sgrosso . Nick Hipa merupakan gitaris yang cukup menonjol dengan karakter sound yang berbeda dengan musik metalcore kebanyakan, karena boleh dibilang ‘terlalu melodius’ dan kurang tebal distorsinya, dan justru hal itu menambah karakter dari pattern2x lead gitar dari Nick, sementara karakter sound distorsi yang tebal dilapis oleh Phil yang memang memiliki background lebih kuat dibandingkan Nick .Sementara Josh Gilbert membantu Tim Lambesis sebagai clean vocalist dan juga bertanggung jawab sebagai pencabik bas.

As I Lay Dying merupakan band yang cukup terkenal di scene metal dunia karena meraih beberapa prestasi . Salah satu yang cukup fenomenal adalah dengan dinominasikan-nya lagu Nothing Left dalam ajang Grammy Awards di tahun 2008. Di tahun ini juga band ini dianugrahi penghargaan San Diego Music Award. Di tahun sebelumnya band ini memenangkan penghargaan Ultimate Metal God dari saluran TV musik terkenal di dunia MTV2 .

Band ini seringkali dicap sebagai band yang cukup religius, karena lirik lirik positifnya yang tergolong berbeda dengan band lain. Bila band lain banyak mengumbar kekerasan, kegelapan ,realita social, band ini justru mengangkat tema religius dan unsure spiritual positif dalam lagu-lagu mereka. Hal ini sempat membuat mereka digelari band metal spiritual. / white metal ,hal ini tercermin lewat rilisan mereka mulai dari Beneath The Encoding of Ashes, yang dirilis di tahun 2001 sampai pada album Shadows are Security yang dirilis tahun 2005.

Tim Lambesis seperti vokalis dan penulis lirik dari band ini mulai bereksperimen dengan lirik yang bertema sosial di album terakhir mereka “ An ocean between us “ yang dirilis tahun 2007 lalu, justru menambah greget dan karakter dari band ini, lirik yang tidak preachy tapi mengajak ke sisi positif tergambar disini . Seiring dengan sambutan positif dari berbagai kritikus musik metal diseluruh dunia, juga band ini beberapa kali tampil dalam sampler majalah Metal Hammer sepanjang tahun 2007, tercatat penulis memiliki 2 edisi Metal Hammer yang memuat mengenai band ini. Bahkan album An Ocean .. ini berhasil menduduki peringkat Billboard 200 no.8 dan no 1 di bagian rock chart , sebuah prestasi yang cukup membanggakan bagi sebuah band yang masih terhitung masih baru diblantika musik rock/metal dunia. Tak salah bila Adam Dukiewicz , gitaris dari band KSE (Killswitch Engage) yang bisa dikatakan pelopor dari genre Metalcore ini memproduseri album An Ocean … dan tak lupa juga Andy Sneap sang maestro “modern sound of metal “ bertugas mengemas sound di album ini sehingga tampil lebih baik di banding album sebelumnya, Shadows are Security.

Di tahun 2007, As I Lay Dying mulai merekam album baru dengan bantuan Colin Richardson di sisi mixing album dan Andy Sneap sebagai pemerhati kualitas sound gitar . Dua nama yang menjadi jaminan kualitas sound yang ciamik dari sebuah album band metal saat ini. Album ini dirpduseri oleh gitaris Killswitch Engage Adam Dutkiewicz yang menjalin pertemanan dengan Tim dkk selama promo tour Shadows of Security . dan pada minggu pertama album ini dirilis berhasil menduduki peringkat 8 pada Billboard 200, dan no.1 pada Top Rock chart . Tercatat penjualan pada minggu pertama album ini menurut Ac Nielsen Soundscan adalah 39.000

Berbagai review dan kritik positif diluncurkan berbagai situs online dan majalah metal dunia seiring dengan dirilisnya album ini, tercatat about.com meberikan 3.5/5 allmusic.com memberikan 4 /5 bintang bahkan Cross Rhytms memberikan rating sempurna 10/10 untuk album ini. Kebanyakan review dan kritik tersebut menjurus pada kualitas sound yang baik dan didukung oleh komposisi lagu yang cukup baik yang disajikan oleh AILD di album ini. Dan tentunya anda pasti penasaran bila lagu lagu seperti Nothing Left, Within Destruction , Forsaken, an Ocean between Us dibawakan langsung di depan mata kita ? Maka nantikan show mereka nanti di Stadion Tennis Indoor Senayan tanggal 27 November 2008 !!

See u There ..!

(Supriyanto - Solucite, soundup magazine , supri-online.com)

Sabtu, 18 Oktober 2008

Underground Fashion Style For Female

Dari jaman dulu sampe jaman sekarang, pakaian tidak pernah lepas dari kaum hawa. Yah, untuk kali ini sich, gue bakalan ngebahas seluk beluk dunia cewe” underground. Untuk sekarang-sekarang ini sich, cewe” underground lebih realistis dan gak muluk-muluk ketimbang cewe-cewe pada umumnya bro! Jadi khusus buat para cowo”, jangan takut berteman ama cewe” tipe ini, coz, mereka juga manusia, sama-sama makan nasi juga toh! Sekarang ini saatnya para cewe” naik daun didunia undergroud neh…

Karena dari sekian banyaknya acara metal/indie/sejenisnya, udah banyak para wanita” (ce ileh bahasanya cuy!) berkeliaran di acara” tsb dengan berpakaian hitam lengkap dengan aksesoris/atribut”nya bergaya sesuai dengan imej nya. Atau juga menggunakan atribut band” favoritnya . Asal tau aja bro,cewe” seperti ini gak hanya sekedar fashionable aja. Setidaknya mereka tau persis lagu”/musik” band” favoritnya juga loh. Waloupun dari luarnya mereka (cewe”) terlihat judes dari penampilannya, tapi sebenarnya mereka sangat ramah dan baik loh,asalkan loe” pada kagak ngusik apa yang mereka sukai..Cewe” ini juga pada dasarnya punya iman yang kuat loh, jadi walau apapun dan sebagaimana pun penampilan mereka, toh mereka tetap taat beribadah.

Apalagi mereka juga punya band sendiri.contohnya, rins dan iwed keduanya vokalis band “GELAP” . Mereka berkomentar tentang underground female : (Sekarang sich, udah maju banget!udah gak dominasi lagi, sekarang lebih berekspresif, bagus aja deh perkembangan buat cewe” underground saat ini. Apalagi banyak yang udah punya nama ,u know lah, jadi gak usah gw sebutin lagi namanya. Dan gw lebih respect ama cewe” yang bener” tau persis apa yang mereka lakukan dan tau jatidiri mereka sebenarnya, gak hanya sekedar ikut2an aja tapi gak tau seluk beluknya, go to hell aja deh!).

Emang sich, kenapa dunia underground lebih indentik ke warna hitam? Emangnya hitam itu udah jadi trademarknya dunia underground? Dari segi baik buruknya gmana? Apa pendapat kalian tentang pandangan negatif khalayak umum? Apa lebih identik sebagai anak bebas yang pemabuk dan pemakai? Gmana cara loe nanggepin kalo cewe underground itu suka di”pakai”? cewe-2 tsb dianggap normal gak sih? Gmana pendapat atau pendangan keluarga mereka?

Nah, sekarang pandangan loe” pada yang menilai tentang cewe2 underground dan gaya berpakaiannya.. Yang penting, menurut gw, mereka punya hak menentukan jalan hidup mereka selama mereka gak menyesal dikemudian hari.

Jumat, 17 Oktober 2008

Serba - Serbi Musik Metal

Musik yang ditampilkan grup band Bezide di Bandung, Jawa Barat, masuk dalam aliran underground. Musik superkeras ini berasal dari luar negeri, tepatnya Amerika Serikat. Kendati jenis musiknya sulit dicerna masyarakat umum, underground selalu punya pengikut fanatik.
Jenis musik underground memiliki beberapa aliran di antaranya black metal, death metal, brutal death, grincore, gothic, punk, dan hard core.
Komunitas penggila musik underground di negeri ini mulai berkembang sekitar tahun 1990-an. Saat itu muncul grup-grup underground yang beberapa di antaranya kini menjadi 'superstar' di dunia underground Tanah Air. Misalnya saja Tengkorak, Siksa Kubur, Jenazah, Santet, Trauma, Thrasline, Noxa, Purgatory, dan Inner Beauty.
Di tahun-tahun itu pula, di Jakarta, konser musik underground digelar hampir setiap minggu. Konser biasanya diadakan di kampus atau kafe, seperti Guinea (Cikini), Parkit (Sabang), Kampus Jayabaya (Pulomas), Kampus Gunadarma (Depok), ABA-ABI (Matraman), Kafe Poster (Museum Satria Mandala), dan banyak tempat lainnya.
Konser tersebut juga jadi ajang pertemuan penggemar musik ini. Mereka datang dengan pakaian dan atribut yang didominasi warna hitam. Tampang mereka pun kelihatan kucel, lusuh, dan acak-acakan. Saat ini, di Jakarta konser seperti itu sudah jarang, bahkan sama sekali tidak terdengar gaungnya. Kendati begitu peminatnya masih banyak.
Kembali ke soal musik underground, jenis atau aliran yang paling keras di kelompok ini adalah aliran black metal dan death metal. Lirik lagu black metal biasanya berbau kegelapan, memuja setan, mistik, dan sihir. Tidak jauh beda dengan death metal yang selalu mengangkat tentang kematian atau alam kubur dalam lirik lagunya.
Karakter vokal kedua aliran tersebut hampir sama dan sangat unik karena syair yang diucapkan oleh vokalis tidak terdengar jelas. Bahkan, cenderung sekadar teriakan atau mirip suara monster. Performa mereka di panggung pun cukup ekstrem dan sedikit sadis, misalnya menggigit burung atau kelinci hidup.
Soal permainan musik, aliran underground lumayan sulit karena ritmenya yang sangat cepat. Jadi, untuk menguasai musik underground, dibutuhkan skill permainan cepat dan butuh latihan yang lumayan lama.
Untuk skala dalam negeri, underground masih sulit masuk industri rekaman. Hal itu disebabkan sebagian orang menganggap citra underground sebagai musik yang keras dan sulit dicerna pendengar umum.
Musik underground biasanya tidak memasarkan produk mereka melalui major label atau perusahaan rekaman besar seperti Sony BMG, Warner Music, EMI, atau Musica Studio. Mereka merekam dan mengedarkan album mereka secara independent atau indie label dan diedarkan sendiri dengan cara menjalin kemitraan dengan bisnis serupa yang ada di dalam negeri atau bahkan mancanegara.
Hal ini dilakukan, misalnya, oleh grup Tengkorak. Dalam sebuah situs diungkapkan, grup ini merajut kerja sama dengan pebisnis Jepang, Jerman, Perancis, Spanyol, dan sebagainya. Pola pemasaran ini dinilai lebih efektif. Itu terbukti dari larisnya karya Tengkorak yang dijual dalam bentuk CD ataupun kaset serta beragam merchandise yang mereka produksi.
Produk kelompok-kelompok musik seperti Tengkorak mudah dijumpai di distro-distro. Di sana juga dijual aneka produk yang berhubungan dengan musik underground, bukan cuma kaset atau CD tapi juga aksesori seperti kaus, sepatu, gelang, kalung, dan atribut lainnya.
Komunitas underground adalah komunitas pemusik yang agresif, namun terhambat oleh nilai-nilai dan norma yang berkembang dalam keluarga dan masyarakat. Mereka melepaskannya lewat musik ini.
Namun, satu hal yang cukup membanggakan buat anak-anak underground. Mereka amat solid dan saling menghargai satu sama lain, serta saling memberi dan mengisi dalam kebersamaan.

Bebas dan Gaya Ala PUNKERS

Punker dan Gaya. Suatu pagi terlihat segerombolan pemuda yang mengenakan pakaian serba hitam dan terlihat lusuh, berkumpul di pelataran Gedung Nasional Indonesia (GNI). Sebagian diantaranya kelompok yang rata-rata masih berusia belia tersebut terlihat dengan santai duduk dan bahkan ada yang tidur-tiduran di trotoar dan pelataran sekitar GNI. Sebagian besar mempunyai gaya rambut yang sangat tidak lazim, yaitu rambut kepala bagian samping ditipiskan dan bagian tengah yang panjang diberi bahan tertentu yang dapat membuat rambut berdiri yang ngetren disebut Mohawk. Rambut diikat menjadi beberapa bagian dan dibiarkan lusuh sehingga terlihat menjadi gimbal seperti gaya rambut legendaris musik Reggae dari Jamaika. Juga banyak sekali model rambut yang membuat orang awam terasa sangat aneh. Belum lagi pakaian yang dikenakan tampak sangat lusuh. Mereka mempunyai pandangan bahwa semakin lusuh pakaian yang mereka kenakan maka akan mempunyai kebanggaan tersendiri.

Kumpulan remaja tersebut mengaku kumpulan aliran musik PUNK dan Black metal, yang pada awal September lalu mengadakan konser di GNI. Aliran musiknya juga terdengar sangat aneh dan kecenderungan sangar. Ini dapat dilihat dari nama kelompok band mereka antara lain Killhamonik, Immorrtal Rites, Pembual, dll. Selain itu aliran musik yang mereka usung juga keras, cepat, bergemuruh dan yang menjadi salah satu ciri khas yaitu vokalisnya selalu memutar kepala sehingga rambutnya yang panjang ikut berputar bak baling-baling pesawat.


Para Punkers tersebut selain dari Kota Kediri juga berasal dari daerah lain seperti Malang, Nganjuk, Jombang, Surabaya, dan bahkan dari Jogjakarta. Biasanya mereka datang secara berkelompok dan sudah datang dua atau tiga hari sebelum konser dimulai. Biasanya untuk mengisi waktu biasanya mereka isi dengan mengamen di perempatan ataupun menjual stikers, maupun kaos.

Perkembangan musik Punk dan Black Metal di kediri sebenarnya sudah ada sejak lama sekitar tahun 90-an. Menurut Arief Punkers Kediri biasa berkumpul di area rumah makan Delicious. Salah satu grup Punk pertama yang lahir di kediri yaitu Hantam Rata yang mempunyai base camp di daerah Joyonegaran yang dipandegani oleh Poer. Setelah itu grup Punk dan Black metal mulai tumbuh di Kota Kediri. Saat ini jumlah Punkers yang ada di Kota Kediri kurang lebih sekitar sekitar 300 orang dan mayoritas anggotanya adalah pelajar.

Karena aliran dan gaya hidup yang dijalani para Punkers sangat aneh, keras dan selalu berpakaian lusuh, maka pandangan miring selalu ditujukan pada mereka. Padahal banyak diantara Punkers yang mempunyai kepedulian sosial yang sangat tinggi, seperti yang dituturkan Yogi salah satu Punkers yang biasa mangkal di sekitar Jalan Dhoho. “Tidak semua Punkers selalu berbuat negatif, walaupun tidak memiliki struktur organisasi yang jelas seperti organisasi lain, teman- teman Punkers memiliki juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi,” kata Yogi. Hal ini dapat dinyatakan dengan memberikan bingkisan kepada anak- anak panti asuhan, berupa beras, pakaian pantas pakai, dll. Dan dana tersebut berasal dari iuran sukarela para Punkers dan keuntungan saat mengadakan sebuah konser. Jadi masih menurut Yogi, Punkers memang dekat dengan kekerasan dan kebebasan, tapi teman–teman Punkers juga memiliki jiwa sosial. Sebenarnya mereka masih mempunyai rencana yang mungkin akan segera dilaksanakan yaitu penghijauan. Dan ini juga membuktikan selain mempunyai kepedulian soial, mereka juga ingin berpartisipasi dalam pembangunan Kota Kediri seperti kegiatan penghijauan. (rud)


Source : kotakediri.go.id